Jumat, 20 November 2015

Berbagi Pandangan Seorang Pendukung Setia Valentino Rossi Part 2

Posted by Unknown on 06.01 with No comments
Sabar-sabar....jangan emosii duluu,,,
Baca lanjutannya yaa...!! =D

Rossi vs. Stoner / Marquez vs. Rossi Laguna Seca

Saya lihat tidak ada bukti bahwa Marquez membantu Lorenzo di Philip Island. Saya lihat ditiap hal yang telah dia lakukan di Sepang, tapi ini bukan niat utamanya untuk bermain-main dengan Rossi, yang menghinanya di depan publik beberapa hari yang lalu. Jika ya, serangan Marquez di Sepang akan seperti ini : "jadi kau pikir aku sudah bermain-main denganmu di Australia, benarkah? Baik, lihat ini, seperti ini lah rasanya jika aku benar-benar bermain-main denganmu."

Rossi dengan beberapa pembenaran meniupnya ke puncak (menjatuhkan Marc karena monuvernya). Dan karena itu dia dikirim ke grid paling belakang, sebuah penalti yang efektif untuk mengakhiri kesempatan untuk kejuaraannya. Rossi mengakui bahwa serangan ucapannya adalah sebuah kesalahan, seperti keputusannya untuk berdebat dengan Marquez di tengah pertandingan. “Aku menyesal telah melebar dan tidak mengikuti jalur normalku,” katanya di Valencia. Yang membuatnya kehilangan gelarnya di Kamis sore di Sepang.



Saya masih pendukung Rossi. Saya juga menyukai sejarahnya. Jika saja Rossi memenangkan kejuarannya di hari Minggu, ini akan menjadi momen bersejarah yang sangat luar biasa: seorang pesaing ganas, olahraga kejam memenangkan gelar GrandPrix kesepuluh  setelah 19 tahun gelar pertamanya. Ini hampir dua kali lipat rekor Michael Schumacher F1, yang jarak gelar terakhirnya 11 tahun dari gelar pertamanya. Ini akan menjadi prestasi manusia super, tidak hanya di olahraga unik motor, tapi di seluruh bidang olahraga lain.

Yang mana membawa kita ke sepuluh juta dollar pertanyaan tentang apa yang berlangsung di hari Minggu. Lorenzo memenangkan pertandingan dan gelarnya, Marquez finish kedua, Dani Pedrosa ketiga dan Rossi finish jauh keempat dengan heroik setelah berhasil memotong jalan dari urutan grid ke 26.

Jika kedua Honda berhasil menyalip Lorenzo, Rossi akan menjadi juara. Tapi mereka tidak melakukannya. Mungkin Marquez memburu Lorenzo, tapi jika itu benar kenapa dia hanya mengekori M1 sepanjang pertandingan? dengan bahasa tubuhnya yang –selalu keras!- menjelaskan pada kita bahwa dia sedang merencanakan untuk menyerang Lorenzo di putaran akhir, seperti di akhir final yang terjepit, yang mana tidak akan memberikan Lorenzo kesempatan untuk membalasnya kembali? Dan kenapa dia tidak memberikan Lorenzo hal yang mudah, mengikutinya dengan jarak aman daripada membuntutinya putaran demi putaran? Semua itu adalah pertanyaan yang mana setiap orang memiliki jawabannya sendiri. Hanya satu kenyataan bahwa M1 Lorenzo memiliki akselerasi grip yang bagus, jadi Marquez tidak bisa mendapatkan set up yang dia butuhkan untuk menyalip Lorenzo di tikungan berikutnya.

Hal ini juga bernilai untuk menunjukkan bahwa Valencia adalah salah satu lintasan yang sulit untuk melakukan overtaking atau menyalip. Ini adalah lintasan pelan, sempit, satu jalur, sirkuit mengikuti-rider-di-depanku dengan entri lambat yang mematikan sampai ke dalam jalur lurus. Ini berlawanan dengan lintasan lebar, cepat dan terbuka di Philip Island. Layout Valencia membuat kesempatan kecil bagi pembalap untuk bersiap keluar dari satu tikungan ke tikungan lainnya, terutama untuk motor MotoGP yang berat dengan kontrol traksi dan rem karbon. Lima dari sembilan pertandingan kering MotoGP yang terakhir tidak ada satu pun manuver overtaking di depan. Tidak satupun.

Di hari Minggu saya berusaha membuka kebenaran dengan mengeluyur ke paddock mencari yang terhormat, pengamat yang tidak memihak yang sudah berada di dalam pertandingan Grand Prix selama banyak decade. Saya bertanya pada para ahli mesin pabrikan, manajer tim, mantan pembalap, pembalap sekarang ini dan para mekanik, yang sedang menghindar dari orang-orang dengan kapak untuk menggilas (dengan kata lain, anggota dari pasukan pabrikan Yamaha dan Honda)

Pemungutan suara berakhir dengan panas, dengan beberapa ketidaktahuan dan sedikit yang tidak mau tahu, kebanyakan adalah pembalap yang lari menjauh saat aku mengajukan pertanyaan kepada mereka. Hasilnya mengkonfirmasi bahwa bahkan orang yang paling mengerti tentang olahraga tidak yakin dengan apa yang telah terjadi.

Kenyataan lain adalah Lorenzo memenangkan kejuaraan dengan selisih tujuh poin untuk kemenangan, sebuah penghargaan unik dimana membuktikan dia adalah cukup sulit untuk  disalip di clear-track dan merubah mode robot.

Lorenzo tidak diragukan menjadi pembalap tercepat di tahun 2015. Rossi sangat dekat dengan kejuaraan dengan empat kemenangan, termasuk kemenangannya di Silverstone (hujan), tidak diragukan dia adalah pembalap terbaik. Dia pastinya beradaptasi lebih baik dalam keadaan dari pada rekan timnya. Dia hanya membuat satu kesalahan sepanjang tahun : yaitu memulai perang kata dengan Marquez di pers konferen sebelum pertandingan di Sepang. JIka dia tetap menjaga pemikirannya untuk dirinya sendiri waktu itu, pertandingan akan berlangsung normal dan dia mungkin akan berada dalam perebutan gelar di Valencia dengan kental. Itu akan menjadi layak untuk ditonton.

Saya memiliki teori –sepenuhnya berdasarkan- permohonan besar Rossi untuk memenangkan gelarnya, jadi dia bisa mempersembahkannya pada sahabat terbaiknya Marco Simoncelli. Jika ada kebenaran di sini, mungkin emosinya bercampur dengan proses pemikiran normalnya, dimana selalu menjadi bencana dalam pertandingan.

Disamping kesuraman yang terjadi di minggu-minggu ini dan disamping pendukung fanatiknya yang menganggapnya seorang dewa yang tidak bisa melakukan kesalahan, saya masih pendukung Rossi. Tapi saya juga pendukung Marquez karena dia memiliki semangat pejuang yang sama saat pertama kali saya tertarik dengan Rossi.

Karakter Lorenzo memang tidak terlalu merebut perhatianku tapi ketika saya berdiri di sisi lintasan, melihatnya melayang melewati tikungan dengan sudut yang tidak mungkin untuk merebah, motornya benar-benar tenang. Saya sangat terkagum-kagum. Tidak satu pun pembalap bisa seperti itu.

Saya juga kagum dengan kemampuannya tetap tenang dan mengendara tiap inci dengan sempurna di depan ribuan penonton yang memakai tinta spesifik warna kuning yang membuuu-nya. Saya memiliki kegilaan yang bertentangan dalam diriku,  jadi semakin dia di benci oleh pendukung yang menolak bahwa dia seorang brilian, semakin aku menyukainya.

Jadi sekarang aku menyukai mereka semua. Aku menyukai pertandingan motor, menghargai semua karakter hidup ekstrim mereka dan menonton drama kekisruhan yang berkembang, seperti perang tanpa penembakan. Aku tidak perduli siapa yang menang. Apakah yang penting adalah berharap untuk hasil yang tidak bisa kau kontrol? Aku ingin menjadi suku, pendukung kuat, membabi buta setia pada motor dan sepak bola.
-------------------------

Note : Nah, seorang Mat Oxley aja bisa punya pandangan seperti itu, walaupun dia pendukung berat Rossi, please deeh buat Rossi fanatik yang berasal dari negeri sendiri, gak usah buat spekulasi yang sok-sok jadi analisis motogp terus nyepam sosmed kanan kiri, menghujat dan lain sebagainya.... boleh kecewa sih, tapi ya kalian tau batasnya bicara kan.... #forzaVale46

and again...

kalo emg Om Vale ditakdirin menang, meskipun Lorenzo di konvoi Marquez, di patrol sama polisi sejagad pun, pasti dia Crash Out juga, ato paling gak motornya ngadat ga bisa finish, toh Lorenzo juga bawa motor sendiri, gak lagi boncengan sama Marquez...XD

Berbagi Pandangan Seorang Pendukung Setia Valentino Rossi part 1

Posted by Unknown on 05.32 with No comments
Sebenarnya udah lama pengen posting ini tapi berhubung masih asik dengan hal-hal yang lain jadi yaa... terlewatkan. =D
Masih seputar Motogp 2015 kemarin sih, yang sekarang masih panas-panasnya, walaupun udah telat banget buat ngeshare, tapi yakin deh masih bisa ngasih pandangan dikit tentang Sepang Clash sampai ke ekor-ekornya.
Artikel ni versi aslinya ada disini @matoxley
Nama penulisnya Mat Oxley, jurnalis yang udah lama banget riwa-riwi di paddock motogp dan salah satu pendukung berat Valentino Rossi plus penulis biografinya juga loh!
Kalo pendukung fanatik om Rossi yang ada di luar sana noh, yang ngomongnya udah gak karu-karuan gara-gara kekalahan Om Vale, (sampe malu-malu sendiri baca komennya orang negeri sendiri di sosmed-nya motogp. haduuuhh.... please deh, komennya kan dibaca orang di seluruh dunia!!.) coba deh tengok dulu hasil pandangan si Om Mat satu ini. He is the real loyal fan.

                                                                     Mat Oxley

(Aku bantu terjemahin ke bahasa Indo, tapi yg gak tahan ma terjemahanku, bisa klik link diatas =D)

APA YANG SEBENARNYA TERJADI PADA FINAL MOTOGP 2015

By : Mat oxley 10 November 2015

Saya sebenarnya belum siap dengan ini, tapi kurasa sekarang adalah waktu yang tepat. Ini adalah waktu untuk berbicara sebagai pendukung Valentine Rossi. Sosial media begitu diracuni oleh fanatik Rossi di minggu-minggu ini, yang menilaiku kejam ribuan kali karena bersikap objektif dalam menilai fakta-fakta. Tidak hanya saya. Banyak jurnalis motogp yang lain yang bertahun-tahun dihormati para pembacanya telah mengalami pelecehan yang sama karena mencoba mengungkap kebenaran.

Saya menyukai Rossi sejak musim panas 2006, sejak dia berada di dalam ruang pers di hari Minggu sore, tertawa, bercanda dengan jurnalis dan menikmati waktu tidak seperti pembalap lainnya. Beberapa tahun kemudian kami bersama dan saya mulai menulis kolomnya, dimana saya harus memburunya setiap Minggu sore (meskipun itu bukan hal mudah) untuk mengobrol tentang pertandingan dan apa yang dia capai di minggu sebelumnya dan sekarang. Satu dari obrolan ini berlangsung di samping kolam renang Rio de Janeiro, Rossi penuh  dengan bir dan sampanye, sementara teman dan kru nya berada di kolam renang, hanya beberapa jam setelah dia memenangkan titel 250cc. Dia selalu lucu, bercanda dengan antusiasme pertandingan dan kehidupannya.

Kontrak kami mengenai tentang kolomnya yang dipublikasikan di ‘majalah motor seluruh dunia-yang amatir dan yang lebih bagus'. Dia memberiku setengah jam di setiap pertandingan dan saya memberinya sebuah CD. Aku sudah lama berada di klub London sepanjang waktu, jadi saya punya banyak rekaman drum aneh dan bass, seperti Goklie’s game-changing Timeless. “Goklie ini music yang aneh” seringainya.

Beberapa tahun kemudian dia menyetujuiku untuk menulis biografinya, yang mana mensyaratkan banyak waktu berjongkok di apartemen suram di St. James Squre, London.

Kami duduk dan bicara tentang masa lalunya, sementara sahabatnya Uccio (Salucci) mengorok di sofa, tidur berat di klub house. Biasanya tropi kemenangan terakhirnya di kelas 500cc berada di bufet diantara sisa-sisa kegilaan hidup di jalannya.

Menulis biografinya juga membawaku ke Italia dimana saya menghabiskan banyak waktu bersama ayahnya yang luar biasa, (satu dari idola masa kecilku) dan kehangatannya bersama ibunya. Ibunya memberi tahuku sedikit tentang cerita menarik dari anaknya, tapi apa yang ku dapat paling banyak adalah cerita Rossi kepada ibunya ketika dia kembali ke rumah dari lintasan minimoto,  bicara tentang adrenalin dan lusinan tentang hala itu. Ibunya berkata ini bukan hanya tentang dunia racing yang dicintai Valentino tapi segala sesuatu tentang kehidupan di paddock. Dia sangat menyukai semua itu dan tentunya ini menjadi alasan utama untuk umur panjang menakjubkannya.

Saya menyukai Rossi karena cara dia bertanding, seperti pejuang. Lebih lagi yang kusuka dari dirinya adalah seseorang yang : cerdas, lucu, berpikiran bebas, sama seperti orangtuanya.
Tapi saya punya sedikit keraguan bahwa dia adalah orang yang baik, sesuatu yang tidak bisa dikatakan dari banyak pembalap yang mencakar jalan mereka ke puncak olahraga kejam dan jahat.

Dia memang hebat di kelas 250 cc, sampai ke kelas 500 cc dan sangat tidak terkalahkan di Honda 4 tak kelas Motogp, meskipun dia sangat kehilangan getaran hebatnya di kelas 500 cc dua tak.

Sebagai jurnalis ini adalah pekerjaan saya untuk menjadi netral, tidak memihak, tidak berat sebelah tapi Rossi sangat sukses dan sangat disukai jadi sangat tidak mungkin menuliskan sesuatu yang buruk tentangnya. Meskipun ketika kompetisi menjadi lebih keras dan kekejamannya mulai merembes keluar, aku tidak peduli. Saya tidak pernah berpikir dia menjadi  lembut dan lunak. Dia adalah pembalap motor, pelaku utama di salah satu dunia kecepatan dan olahraga mematikan. Kau tidak  akan awmenjadi raja di kelas raja tanpa menjadi  egois dan jahat, ketika saat yang dibutuhkan. abaikan senyum dan lambaian ramah. Itu hanya seringai riang persembahan sang pembunuh.

Pertama perselisihannya – keduanya berada di dalam lintasan dan luar lintasan – Max Biaggi dan Sete Gibernau. Intinya, seorang Roma dan seorang Spanyol terlalu mudah untuk Rossi. Kemudian datang Nicky Hayden, seorang gentleman selama pertandingan mereka di tahun 2006, dimana Rossi menderita segala macam nasib buruk, dimana pertarungan mereka adalah contoh terbaik dari pertandingan olahraga. Kau tidak akan menemukan sebuah perbedaan diantara pertarungan memikat saat final dan kepahitan dari Minggu terakhir di Valencia.

Kemudian datang Casey Stoner, seorang pembalap berbakat yang menyamai dan kadang lebih dari pembalap popular lainnya. Rossi sangat pandai, jadi dia tahu karirnya menjadi lebih rumit ketika dia tahu generasi baru telah datang, membawa kemampuan baru dan semangat lebih. Kemudian datang Jorge Lorenzo. Rossi menunjuk mereka sebagai hiu yang memburunya.

Dan kemudian Marc Marquez datang. Akhirnya, ada rival yang tercipta dari imej Rossi pribadi. Marquez telah menonton dan memuja Rossi sejak dia kecil, tidak mengejutkan jika dia menjadi seringai pembunuh seperti idolanya.

Di Catalunya 2008 ketika Marquez masih menjadi pembalap usia sekolah, dia meminta seorang jurnalis dan fotografer Spanyol untuk berkenalan dengan idolanya (Rossi), dan Rossi memberinya hadiah mobil mainan.  “Ah” kata Rossi. “Kau sangat pemberani Marc…”

Mereka bilang kau seharusnya tidak pernah bertemu dengan idolamu dan mungkin mereka benar. Rossi adalah pembalap yang kejam di lintasan sampai Marc Marquez datang. Kapan saja dia harus bertarung satu lawan satu dengan rival-rival sebelumnya, Rossi selalu menjadi pemenang. Biaggi, Gibernau, Stoner, mereka semua jatuh tersengat di bawah insting pembunuhnya. Tapi sekarang ada pemuda gila yang mau sekarat hanya untuk memberi yang terbaik dari yang bisa dia dapat.

bersambung part2

Senin, 15 Juni 2015

Posted by Unknown on 03.18 with No comments
My first blog!!!