Jumat, 14 Oktober 2016

Monet, Who Are You? (part 4)

Posted by Unknown on 18.13 with No comments
BUKU BERSAMPUL HIJAU
Setelah rute Orchard Street, pagi ini aku berangkat menyusuri Ludlow Street. Bangun lebih awal dan berangkat satu jam lebih awal dari kemarin. Untuk berjaga-jaga agar tidak terlambat sampai di Evey jika aku tersesat. Sejak kecil aku bukan pengingat arah jalan yang baik.
Aku berjalan pelan sambil menikmati pagi. Sama seperti yang bisa dibayangkan banyak orang tentang New York, kota ini tidak pernah tidur meskipun aku masih berada di ujung lidah kota ini. Kendaraan mulai berlalu-lalang seperti semut yang mencari makan di musim dingin.
Pagi yang menggeliat, memang belum banyak toko yang belum buka tapi beberapa resto dan kedai kopi mulai berbenah membuka kedainya. Sementara toko yang tidak ada hubungannya dengan urusan perut, masih tertutup rapat dengan etelasenya yang gelap.
LES tidak terlalu buruk, pikirku membesarkan hati. Memang aku jauh merindukan Ann Arbor dengan pohon-pohonnya yang rindang. Halaman rumahku yang luas dan berumput. Di sini aku tidak menemukan hal semacam itu. Kecuali rentetan bangunan bertingkat yang tampak gersang. Trotoar penuh tiang besi penyangga kanopi toko yang didirikan ngawur. Aku harus beberapa kali menunduk jika tidak mau kepalaku terbentur. Tapi lepas dari semua itu, aku jadi orang baru disini dan hidup yang baru dan….
”Aachh…!!!” aku menjerit sambil melompat kaget ketika gerombolan bola bulu warna kelabu menyerondol kakiku. Oh Tuhan, banyak sekali tikus di sini.
Aku mengawasi bola bulu gendut keluar dari lubang gorong-gorong kemudian berlarian ke dalam gang di sebelah restoran yang tangki sampahnya meluap. Dengan cepat mereka merayap masuk ke dalam tangki sampah dan menyerbu sisa makanan di sana. Sedetik kemudian beberapa tikus lain berlarian dari arah lain menuju ke tangki sampah yang sama.
Astaga, ini masih pagi buta dan bahkan tikus pun tidak tidur di kota ini. Setelah membiasakan diri dengan jeritan orang mabuk tiap malam yang jumlahnya sebanyak bar yang tersebar di LES, aku juga harus membiasakan tikus-tikus yang jumlahnya hampir sama dengan penduduk LES. Kota ini benar-benar ajaib. Aku menggelengkan kepalaku takjub sembari meneruskan perjalanan. Meninggalkan bola-bola bulu itu berpesta di tangki sampah.
Sampai di ujung jalan sebelum aku berbelok ke Stanton Street, sebuah toko buku kecil menarik perhatianku. Bukan karena bangunan itu berasal dari batu bata warna marun dan pintu gaya lama yang disertai bel lonceng di depannya, tapi karena sepotong kertas pengumuman yang menempel di dinding kacanya. Aku berhenti dan membacanya. Ternyata mereka sedang membutuhkan pegawai paruh waktu.
Nah ini yang kubutuhkan, jeritku dalam hati. Aku mengambil pulpen dari dalam tasku dan menuliskan jam dan hari untuk menemui seseorang yang bernama Mrs Violeta yang tertera di kertas itu. Jika Mum belum bisa meletakkan daging panggang atau salad ayam di meja, itu berarti aku tidak akan mendapatkan uang saku yang mencukupi. Aku memang masih punya lima ratus dolar di celenganku. Hasil dari membantu bibi Nichols di toko kuenya sebelum pindah kemari, tapi dalam hitungan beberapa minggu uang itu pasti akan habis juga.
xxxx
Sampai di Evey, aku menunggu Ely sambil bersandar di lokerku. Masih tiga puluh menit sebelum jam pertama. Aku tidak tersesat dan itu bagus. Belum banyak yang datang sepagi ini, hanya satu dua saja murid saja yang berpapasan denganku. Lima belas menit kemudian aku melihat wajah-wajah yang mulai kukenal. Berpapasan dengan Frank dan Blake di koridor dan mereka menggodaku lagi.
“Hei anak baru, siapa namamu? Stevens? Oh, ya Julie Stevens,” iseng Frank sambil memutar-mutar bola basket di tangannya. “Kenapa kau berdiri di sini? Kau lupa arah kelasmu? Aku tidak keberatan mengantarmu,” Frank memberikan tangannya yang bebas kepadaku untuk kugandeng.
“Terima kasih Frank tapi aku sedang menunggu Ely.” Balasku.
“Yah, kesempatan yang buruk.” Dia menjentikkan jarinya kecewa. Kemudian melempar bola basketnya ke punggung Blake. “Aku benci cewek,” lanjutnya sembari meneruskan perjalanannya.
Lima menit kemudian aku melihat Giselle masuk dari pintu depan sedang terkikik-kikik bersama gengnya yang tampak begitu memujanya. Untungnya dia tidak melihatku. Karena ketika sampai di depanku dia memilih memelototi kukunya untuk mencari setitik catnya yang mengelupas.
Bel berbunyi.
Membuatku cemas.
Aku belum melihat Ely. Aku tidak ingin sendirian. Kemudian sedetik sebelum aku memutuskan untuk naik ke kelas, kulihat Ely berlari dari luar kemudian membuka pintu dorong kaca sekolah dengan kekuatan berlebih. Pintu kaca menabrak dinding di belakangnya sampai berbunyi dar keras.
“Ely!” seruku kaget dan dia membekap mulutnya sama kagetnya denganku.
Ely melihatku dan berlari kearahku. Menggaet tanganku dan menarikku berlari bersama menuju tangga. Dia berkeringat dan tampak waspada. Rambut keritingnya seperti sarang burung. Penuh dengan potongan tangkai dahan kering dan daun kering.
 “Maaf aku agak terlambat dan terima kasih sudah menungguku.” Ujarnya cepat.
 Kami menaiki anak tangga dua-dua sekaligus.
“Tidak apa.” jawabku sambil memindahkan tasku ke depan dada dan membekapnya dengan kedua tanganku untuk meredam kotak pensil besiku yang berkelontangan. “Tapi kenapa kau terlambat? Dan rambutmu?”
Ely melarikan tangannya ke rambutnya yang keriting tebal dan membersihkannya. “Blake. Aku lihat dia di dekat halte. Jadi aku bersembunyi agar dia tidak menganiayaku sebelum jam pertama mulai.”
“Oh,” sahutku terkejut. Entah harus menanggapi seperti apa. Tapi Ely tampak begitu serius berperang dengan Blake.
“Jadi kau memakai deodoran?” lanjutnya lagi dengan curiga.
Aku memutar bola mataku. “Tentu saja!”
Untung saja Mrs Andrew belum datang saat kami sampai di kelas. Frank langsung menyapaku. “Hai Julie, kita bertemu lagi!” Sementara Blake menyipit memandang Ely yang tersenyum menang.
 Aku dan Ely berjalan cepat mengisi bangku kosong yang tersisa. Ely duduk tepat di belakang Giselle, dia berlagak muntah tanpa suara padaku. Sedangkan aku duduk di depan cowok yang sedang menggelung memeluk meja seperti kucing di musim dingin. Matanya terpejam damai. Bibirnya terbuka sedikit. Aku mendengar desahan nafas pelan dan teraturnya.
Menilik jaketnya yang kebesaran sama seperti kemarin, membuatku mengingat siapa dia. Dia Sam. Sepertinya dia datang sangat pagi hari ini. Aku tidak berpapasan dengannya di koridor depan padahal aku datang tiga puluh menit lebih awal.
Semenit kemudian Mrs Andrew masuk ke dalam kelas dan Sam belum juga tersadar dari tidurnya. Mrs Andrew mengucapkan selamat pagi dan menata bukunya di mejanya. Satu dua nafas teratur terdengar lagi. Aku mulai khawatir Sam tidak bangun. Mrs Andrew bangkit dari kursinya dan mulai memandang muridnya. Satu desahan panjang nafas terdengar.
Aku memandang berkeliling. Mencari seseorang yang sedang bergerak untuk membangunkan Sam. Tapi tidak ada. Seisi kelas sibuk dengan dirinya sendiri, mengeluarkan peralatan sekolahnya.
 “Nah, seperti yang kukatakan kemarin…” Mrs Andrew mulai berbicara. Aku mulai khawatir. “…kita akan mempelajari kelanjutan pelajaran kemarin dan sesuai kesepakan kita…” Mata Mrs Andrew menyapu seluruh kelas.
Kemarin mungkin saja cowok ini lolos dari pandangan mematikan Mrs Andrew, tapi bukan tidak mungkin hari ini akan berjalan sebaliknya. Aku tidak tahu kenapa aku peduli. Tapi jika aku sedang berada di posisi yang sama dengan Sam, aku pasti berharap ada seseorang yang membangunkanku. Dengan mata tetap terfokus pada Mrs Andrew aku mencoba menabrakkan punggungku ke sandaran kursiku sampai membentur meja Sam.
Terdengar bunyi duk pelan tapi tidak ada respon. Aku menabraknya lagi. Dua kali tidak ada respon dan akhirnya dengan sentakanku yang agak keras aku mendengar lenguh panjang dan gerakan. Syukurlah dia terbangun. Dan aku akan meminta maaf  kepadanya nanti tentang perlakuanku yang kurang sopan.
“…Jadi untuk itu apakah kalian sudah membawa buku paket yang sempat kusinggung kemarin? Maaf anak-anak, demi kedisiplinan aku akan memeriksa buku kalian satu persatu. Bagi yang tidak membawa aku ingin kalian keluar dari kelas!”  lanjut Mrs Andrew dengan suara menggelegar dan membuat jantungku melompat.
Buku paket? Buku paket apa? aku mencoba mengingatnya tapi tak menemukan apapun dalam pikiranku yang menyangkut tentang buku paket dan bahkan aku juga belum memilikinya.
Aku memutar kepalaku ke arah Ely yang langsung membelalakkan matanya padaku. Dia meringis sambil mengucapkan kata maaf tanpa suara. Mengetuk dahinya dengan telapak tangannya sendiri. Aku mengerti apa yang sedang dia lakukan. Ely menggerakkan tangannya ke arah belakang lalu menggerak-gerakkan lima jarinya seperti bibir orang yang berbicara kemudian menunjuk Mrs Andrew.
Aku gagal mengerti. Sama gagalnya seperti saat aku menonton cuplikan film Charlie Chaplin diusia lima tahun.
Setelah beberapa kali Ely melakukan gerakan konyol itu aku sadar. Begitu sadar sampai ingin menangis. Astaga, aku dalam masalah. Aku di toilet saat itu dan aku melewatkan instruksi Mrs Andrew.
“Aku tahu aku seharusnya tidak membuat kalian tidak mengikuti pelajaran hanya karena lupa membawa buku paket kalian. Tapi mengingat pentingnya pelajaran hari ini dan sesuai dengan kesepakatan kita bersama kemarin, aku tekankan lagi bahwa tidak ada buku paket berarti keluar dari kelas.” Lanjut Mrs Andrew membuatku gemetar. Bagaimana mungkin aku sudah dikeluarkan dari kelas dihari ketigaku di sini?
Mrs Andrew berjalan pelan ke arah baris bangkuku dan memeriksa buku paket anak yang duduk di depanku. Jantungku berdenyut keras. Aku menoleh ke Ely yang masih mengekoriku dan mengucapkan maaf tanpa kata.
“Astaga bagaimana ini?” bisikku padanya walaupun aku tahu dia tidak bisa mendengarnya.
Mrs Andrew sudah sampai di bangku depanku. Baiklah lebih baik aku jujur saja bahwa aku melewatkan pengumuman Mrs Andrew karena aku sedang di toilet waktu dia memberi intruksi. Lagi pula aku juga belum membelinya. Dan ini salahku. Setelah mendapat sedikit omelan aku akan mengangkat tas keluar kelas sambil mengucapkan banyak permintaan maaf kemudian menunggu Ely di kantin sampai jadwal kelas selanjutnya. Tapi aku tidak ingin melewatkan pelajaran ini karena aku tahu aku bodoh untuk geometri.
“Miss Steven di mana bukumu?” Mrs Andrew sampai di mejaku. Matanya menyelidik. Mejaku masih kosong. Aku belum mengeluarkan apapun dari tasku.
Aku memandang yang lainnya yang ternyata menengok ke arahku. Mungkin mereka juga tidak ingin melewatkan momen bahwa anak baru ternyata sebodoh yang bisa dibayangkan. “Kau tidak mendengar instruksiku kemarin Miss Steven?” lanjutnya lagi.
“Ehm… Mrs Andrew maaf, sebenarnya aku tidak bermaksud…” dan saat itu seseorang mencolek-colek punggungku. Astaga apa ini waktu yang tepat? Aku mengacuhkannya. “…untuk tidak membawanya tapi…” dan sekali lagi colekan super keras di punggungku membuatku menoleh dengan kesal. “Ya?”
Sam dengan wajah mengantuk dengan lingkaran hitam di bawah mata berbalik menatapku. “Kau menjatuhkan bukumu di bawah kursi!” ujarnya datar. Dengan bingung aku mengikuti arah tangannya yang mengacungkan ujung pulpen yang dipakainya untuk mencolekku ke bawah kursiku.
Sebuah buku setebal buku telepon berwarna hijau tergeletak di bawahku. Aku memungutnya dengan ragu kemudian beralih ke Mrs Andrew yang tersenyum puas melihat buku itu. Kemudian dia melewatiku begitu saja dan aku masih bingung menggenggam buku entah milik siapa yang di bawah kursiku.
“Kau tidak lupa membawa bukumu kan Sam?” aku melirik punggung Mrs Andrew yang sedang berbicara dengan Sam.
Hening sesaat dan terdengar suara tas yang diangkat dari lantai. “Maafkan aku Mrs Andrew, tapi aku benar-benar lupa membawanya.”
Terdengar lenguhan putus asa Mrs Andrew dan desisan, “keluar!”
Aku menoleh ke arahnya saat itu juga dan dia menatapku sekilas sebelum bangkit berdiri sambil menyandang tasnya keluar kelas.
XXX
“Buku ini milik Sam,” aku memberitahu Ely sambil membuka lembaran awal buku dengan tulisan grafiti namanya di sudut halaman. Kami berdua berada di kantin dengan Ely yang tidak bisa berhenti mengucapkan kata maaf karena lupa memberitahuku soal buku paket itu. Aku sungguh tidak menyalahkannya.
“Maaf benar-benar aku lupa Julie. Tapi jangan berpikir aku sengaja melakukannya…”
“Ely berhenti meminta maaf, lihat buku ini!”
“Baiklah,” Ujarnya ogah-ogahan kemudian melihat nama kecil di ujung halaman sampul depan. “Ini memang bukunya dan dia menyelamatkanmu.”
“Aku harus berterima kasih padanya.”
“Oh, lupakan.” Sahutnya malas sambil mengaduk-aduk minumannya. Aku memandangnya heran. “Kau tidak perlu berterima kasih. Aku yakin dia sengaja melakukannya untuk segera keluar dari kelas.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena dia itu tukang bolos, tukang terlambat, pemalas… ya kau tahu semacam anak aneh yang selalu ada di tiap SMA normal.”
Aku mengerutkan dahi. “Sam terlihat normal-normal saja.” Ujarku. Ely mendengus.
 Jaketnya memang kebesaran dan lingkaran hitam di bawah matanya itu terlihat aneh memang. Tapi semua orang di dunia ini kan akan memilikinya jika begadang semalaman. Apalagi setelah nonton konser. Dia juga rajin datang. Bahkan sebelum aku tiba di sini.
“Tapi aku lihat dia tidak terlambat tadi.” Sambungku. “ Kau tahu, aku sampai tiga puluh menit lebih awal dan aku terus berdiri di depan loker menunggumu aku tidak melihatnya melewatiku. Dia datang lebih dulu daripadaku.”
Ely memutar matanya. “Nah itulah yang kumaksud. Dia semacam… kau pernah melihat film fantasi yang pemeran utamanya adalah seseorang yang hidup di dunia khayalannya sendiri? Berjalan menapakkan kaki di bumi tapi pikirannya melayang-layang di galaksi? Nah, dia Sam. Kau tidak bisa menebak jalan pikirannya. Kadang dia datang satu jam lebih awal dan kadang setengah jam sebelum bel akhir pelajaran. Setiap hari dia datang, duduk, tidur dan pulang begitu saja. Kadang kala dia tidak masuk sekolah berhari-hari kemudian kembali ke kelas, meminta tugas yang terlewatkan dan mengerjakannya. Dia seperti mayat hidup.”
Aku mengamati wajah Ely yang terlihat tidak serius sambil menotolkan kentang gorengnya ke saus mayo. “Kau sedang bercanda ya? Mana mungkin ada anak yang semaunya sendiri seperti itu, dia pasti sudah dikeluarkan dari sekolah.”
“Nah, itu ajaibnya si Sam ini. Dia adalah tipe orang yang akan bekerja keras ditarikan nafas terakhir. Para guru sudah menyerah dengan Sam. Dia sekolah semaunya sendiri, tidak pernah mendengarkan guru di kelas, selalu tidur, membolos berhari-hari dan dia sudah diskors beberapa kali. Tapi rasanya tidak berguna. Sam tidak memperdulikan peringatan. Ketika sekolah sudah menyerah dan mengancamnya tidak naik kelas, dia akan kembali ke Evey untuk meminta semua tugas yang terlewatkan olehnya. Ditambah tugas tambahan untuk hukumannya, tentu saja. Kau bisa membayangkan betapa mengerikkannya hal itu?” Ely melotot padaku.
“Itu pasti sangat banyak sekali,” timpalku ngeri.
Ely mengangguk-angguk serius. “Tapi dia selalu berhasil mengerjakannya. Alhasil dia bisa naik kelas. Walaupun nilai kedisiplinan dan keaktifannya minus seratus tapi akademinya selalu A. Tentu saja sekolah tidak akan mengeluarkan murid yang rata-rata nilainya meskipun dia sering membolos.” Terang Ely lancar.
“Benarkah?” aku memandangi lagi buku itu.
Ely mendengus. “Julie aku sudah bersekolah di sini empat tahun lamanya dan hal itu membuatku cukup tahu beberapa pola tingkah anak di sini, termasuk Sam!”
“Aku tidak pernah bertemu seseorang yang seperti itu,” sahutku.
Ely tertawa pelan. “Dia aneh. Banyak yang bilang Sam membayar orang lain untuk mengerjakan tugasnya.”
“Dia anak orang kaya?”
Ely menyeruput jusnya dan menggeleng untuk kedua kalinya. “Aku tidak tahu dan anak lain pun tidak. Sudah kubilang dia tidak punya teman. Dia pendiam dan terlalu dingin seperti kutub utara.”
“Ah, tidak ada orang yang sedingin itu di dunia ini, kalau iya, pasti dia sudah mati membeku. Kau bercanda!”
Ely mendengus protes.
“Kau tak pernah bicara dengannya?”
“Tidak.” Ely merapatkan kepalanya padaku. “Rumor berkembang kalau si Sam itu seorang pelukis sensual amatir.”
“Apa?” seruku menarik kepalaku menjauh. Mana ada  anak SMA punya profesi seperti itu? “pelukis telanjang maksudnya?”
“Sssttt…” Ely menempelkan jarinya kebibir. “Banyak yang sering melihat Sam berjalan dengan banyak wanita. Tidak hanya remaja seperti kita, tapi semua wanita. Kadang wanita tua, kadang masih muda dan kadang seumuran dengan ibuku. Sam tertawa-tawa bersamanya, ya maksudku apa salahnya sih dengan tertawa. Tapi untuk ukuran anak aneh yang tidak pernah bicara dengan seseorang kurasa agak mencurigakan.”
“Dia seorang pelukis?” aku masih belum menemukan benang merah antara tertawa dengan gadis-gadis dan pelukis amatir.
“Aku tidak tahu pasti dia seorang pelukis sensual atau tidak. Atau hanya kedok saja. Tapi, dia selalu mendapat nilai paling tinggi di kelas seni. Dan hanya kelas itu yang jarang dia lewatkan.”
“Kau pernah melihat lukisannya?” tanyaku. Aku menyukai lukisan. Kurasa aku tertarik dengan hal ini.
“Ada beberapa lukisannya di galeri seni lantai tiga. Kau bisa melihatnya saat pergantian jam pelajaran. Tapi Mrs Julian tidak akan membiarkanmu melakukannya tanpa ijin. Jadi kau harus meminta ijinnya terlebih dulu untuk memasuki galerinya. Dan itu sama mustahilnya seperti kau melihat penguin di pantai Maladewa.”
Aku mengangguk-angguk. “Lalu gadis-gadisnya?”
Ely menepuk dahinya sendiri. “Julie, jika kau seorang cowok, apa yang akan kau lakukan jika bersama seorang wanita telanjang di dalam kamar?”
Tanpa berpikir aku sudah mendapatkan jawabannya.
“Separah itu kah? Kau yakin?” aku sanksi. “Giselle juga terlihat menyukainya ya,” aku mengingat Giselle yang terkikik-kikik melihat Sam kemarin.
“Oh kau jangan terlalu polos Julie, siapa sih yang tidak akan menyukainya? Dia tinggi, berambut gelap, matanya bagus dan…” Ely membuat gerakan di udara dengan kedua tangannya membentuk siluet gitar Spanyol. “Dia hot! Ya walaupun gayanya acak kadut sih. Pertama kali masuk SMA dia seperti bintang yang kelewat bersinar. Banyak yang mengejarnya. Mendekati Sam dengan banyak cara, tapi semua gagal. Mereka bilang, mendekati Sam adalah hal paling sia-sia. Sama sia-sianya seperti menyatukan Korea Utara dan Selatan. Jadi mereka mundur satu-persatu. Sam begitu misterius.”
Aku terpaksa menelan semua cerita Ely walaupun aku sangat tidak percaya. Sama tidak percayanya dengan Dad yang berhenti minum alkohol. Dan apa perduliku dengan pekerjaannya? Aku hanya ingin mengembalikan bukunya dan berterima kasih padanya.
“Ely, bagaimanapun juga aku harus mengembalikan buku ini dan mengucapkan terima kasih,” lanjutku sambil menatap kembali buku geometri bersampul hijau di tanganku.
“Ya, ya aku tahu tapi aku hanya bisa mendoakan semoga berhasil!”
“Kenapa kau bicara seperti itu?” tanyaku heran.
“Kau akan tahu sendiri nanti.”

Sepanjang sisa hari itu aku mencari Sam di seluruh penjuru sekolah dan hasilnya nihil dan ketika jam sekolah berakhir aku sengaja menunggunya di luar kelas. Tapi aku tak menemukannya. Akhirnya aku berpisah jalan dengan Ely. Dia harus pulang membantu ibunya lebih awal karena adiknya sedang demam. Aku kembali berjalan menyusuri Stanton Street dengan banyak suara Ely tentang Sam. Dan di mana Sam? Aku benar-benar harus berterima kasih padanya.

0 komentar:

Posting Komentar