BUKU
BERSAMPUL HIJAU
Setelah rute Orchard
Street, pagi ini aku berangkat menyusuri Ludlow Street. Bangun lebih awal dan
berangkat satu jam lebih awal dari kemarin. Untuk berjaga-jaga agar tidak
terlambat sampai di Evey jika aku tersesat. Sejak kecil aku bukan pengingat
arah jalan yang baik.
Aku berjalan pelan
sambil menikmati pagi. Sama seperti yang bisa dibayangkan banyak orang tentang
New York, kota ini tidak pernah tidur meskipun aku masih berada di ujung lidah
kota ini. Kendaraan mulai berlalu-lalang seperti semut yang mencari makan di
musim dingin.
Pagi yang menggeliat,
memang belum banyak toko yang belum buka tapi beberapa resto dan kedai kopi
mulai berbenah membuka kedainya. Sementara toko yang tidak ada hubungannya
dengan urusan perut, masih tertutup rapat dengan etelasenya yang gelap.
LES tidak terlalu
buruk, pikirku membesarkan hati. Memang aku jauh merindukan Ann Arbor dengan
pohon-pohonnya yang rindang. Halaman rumahku yang luas dan berumput. Di sini
aku tidak menemukan hal semacam itu. Kecuali rentetan bangunan bertingkat yang
tampak gersang. Trotoar penuh tiang besi penyangga kanopi toko yang didirikan
ngawur. Aku harus beberapa kali menunduk jika tidak mau kepalaku terbentur. Tapi
lepas dari semua itu, aku jadi orang baru disini dan hidup yang baru dan….
”Aachh…!!!” aku
menjerit sambil melompat kaget ketika gerombolan bola bulu warna kelabu
menyerondol kakiku. Oh Tuhan, banyak sekali tikus di sini.
Aku mengawasi bola bulu
gendut keluar dari lubang gorong-gorong kemudian berlarian ke dalam gang di
sebelah restoran yang tangki sampahnya meluap. Dengan cepat mereka merayap
masuk ke dalam tangki sampah dan menyerbu sisa makanan di sana. Sedetik
kemudian beberapa tikus lain berlarian dari arah lain menuju ke tangki sampah
yang sama.
Astaga, ini masih pagi
buta dan bahkan tikus pun tidak tidur di kota ini. Setelah membiasakan diri
dengan jeritan orang mabuk tiap malam yang jumlahnya sebanyak bar yang tersebar
di LES, aku juga harus membiasakan tikus-tikus yang jumlahnya hampir sama
dengan penduduk LES. Kota ini benar-benar ajaib. Aku menggelengkan kepalaku
takjub sembari meneruskan perjalanan. Meninggalkan bola-bola bulu itu berpesta
di tangki sampah.
Sampai di ujung jalan
sebelum aku berbelok ke Stanton Street, sebuah toko buku kecil menarik
perhatianku. Bukan karena bangunan itu berasal dari batu bata warna marun dan
pintu gaya lama yang disertai bel lonceng di depannya, tapi karena sepotong
kertas pengumuman yang menempel di dinding kacanya. Aku berhenti dan membacanya.
Ternyata mereka sedang membutuhkan pegawai paruh waktu.
Nah ini yang
kubutuhkan, jeritku dalam hati. Aku mengambil pulpen dari dalam tasku dan
menuliskan jam dan hari untuk menemui seseorang yang bernama Mrs Violeta yang
tertera di kertas itu. Jika Mum belum bisa meletakkan daging panggang atau
salad ayam di meja, itu berarti aku tidak akan mendapatkan uang saku yang
mencukupi. Aku memang masih punya lima ratus dolar di celenganku. Hasil dari
membantu bibi Nichols di toko kuenya sebelum pindah kemari, tapi dalam hitungan
beberapa minggu uang itu pasti akan habis juga.
xxxx
Sampai di Evey, aku
menunggu Ely sambil bersandar di lokerku. Masih tiga puluh menit sebelum jam
pertama. Aku tidak tersesat dan itu bagus. Belum banyak yang datang sepagi ini,
hanya satu dua saja murid saja yang berpapasan denganku. Lima belas menit
kemudian aku melihat wajah-wajah yang mulai kukenal. Berpapasan dengan Frank
dan Blake di koridor dan mereka menggodaku lagi.
“Hei anak baru, siapa namamu?
Stevens? Oh, ya Julie Stevens,” iseng Frank sambil memutar-mutar bola basket di
tangannya. “Kenapa kau berdiri di sini? Kau lupa arah kelasmu? Aku tidak
keberatan mengantarmu,” Frank memberikan tangannya yang bebas kepadaku untuk
kugandeng.
“Terima kasih Frank
tapi aku sedang menunggu Ely.” Balasku.
“Yah, kesempatan yang
buruk.” Dia menjentikkan jarinya kecewa. Kemudian melempar bola basketnya ke
punggung Blake. “Aku benci cewek,” lanjutnya sembari meneruskan perjalanannya.
Lima menit kemudian aku
melihat Giselle masuk dari pintu depan sedang terkikik-kikik bersama gengnya
yang tampak begitu memujanya. Untungnya dia tidak melihatku. Karena ketika
sampai di depanku dia memilih memelototi kukunya untuk mencari setitik catnya
yang mengelupas.
Bel berbunyi.
Membuatku cemas.
Aku belum melihat Ely.
Aku tidak ingin sendirian. Kemudian sedetik sebelum aku memutuskan untuk naik
ke kelas, kulihat Ely berlari dari luar kemudian membuka pintu dorong kaca sekolah
dengan kekuatan berlebih. Pintu kaca menabrak dinding di belakangnya sampai berbunyi
dar keras.
“Ely!” seruku kaget dan
dia membekap mulutnya sama kagetnya denganku.
Ely melihatku dan
berlari kearahku. Menggaet tanganku dan menarikku berlari bersama menuju tangga.
Dia berkeringat dan tampak waspada. Rambut keritingnya seperti sarang burung.
Penuh dengan potongan tangkai dahan kering dan daun kering.
“Maaf aku agak terlambat dan terima kasih sudah
menungguku.” Ujarnya cepat.
Kami menaiki anak tangga dua-dua sekaligus.
“Tidak apa.” jawabku
sambil memindahkan tasku ke depan dada dan membekapnya dengan kedua tanganku
untuk meredam kotak pensil besiku yang berkelontangan. “Tapi kenapa kau
terlambat? Dan rambutmu?”
Ely melarikan tangannya
ke rambutnya yang keriting tebal dan membersihkannya. “Blake. Aku lihat dia di
dekat halte. Jadi aku bersembunyi agar dia tidak menganiayaku sebelum jam
pertama mulai.”
“Oh,” sahutku terkejut.
Entah harus menanggapi seperti apa. Tapi Ely tampak begitu serius berperang
dengan Blake.
“Jadi kau memakai
deodoran?” lanjutnya lagi dengan curiga.
Aku memutar bola
mataku. “Tentu saja!”
Untung saja Mrs Andrew
belum datang saat kami sampai di kelas. Frank langsung menyapaku. “Hai Julie,
kita bertemu lagi!” Sementara Blake menyipit memandang Ely yang tersenyum
menang.
Aku dan Ely berjalan cepat mengisi bangku
kosong yang tersisa. Ely duduk tepat di belakang Giselle, dia berlagak muntah
tanpa suara padaku. Sedangkan aku duduk di depan cowok yang sedang menggelung
memeluk meja seperti kucing di musim dingin. Matanya terpejam damai. Bibirnya
terbuka sedikit. Aku mendengar desahan nafas pelan dan teraturnya.
Menilik jaketnya yang
kebesaran sama seperti kemarin, membuatku mengingat siapa dia. Dia Sam. Sepertinya
dia datang sangat pagi hari ini. Aku tidak berpapasan dengannya di koridor depan
padahal aku datang tiga puluh menit lebih awal.
Semenit kemudian Mrs
Andrew masuk ke dalam kelas dan Sam belum juga tersadar dari tidurnya. Mrs
Andrew mengucapkan selamat pagi dan menata bukunya di mejanya. Satu dua nafas
teratur terdengar lagi. Aku mulai khawatir Sam tidak bangun. Mrs Andrew bangkit
dari kursinya dan mulai memandang muridnya. Satu desahan panjang nafas
terdengar.
Aku memandang
berkeliling. Mencari seseorang yang sedang bergerak untuk membangunkan Sam.
Tapi tidak ada. Seisi kelas sibuk dengan dirinya sendiri, mengeluarkan
peralatan sekolahnya.
“Nah, seperti yang kukatakan kemarin…” Mrs
Andrew mulai berbicara. Aku mulai khawatir. “…kita akan mempelajari kelanjutan
pelajaran kemarin dan sesuai kesepakan kita…” Mata Mrs Andrew menyapu seluruh
kelas.
Kemarin mungkin saja
cowok ini lolos dari pandangan mematikan Mrs Andrew, tapi bukan tidak mungkin
hari ini akan berjalan sebaliknya. Aku tidak tahu kenapa aku peduli. Tapi jika
aku sedang berada di posisi yang sama dengan Sam, aku pasti berharap ada
seseorang yang membangunkanku. Dengan mata tetap terfokus pada Mrs Andrew aku
mencoba menabrakkan punggungku ke sandaran kursiku sampai membentur meja Sam.
Terdengar bunyi duk
pelan tapi tidak ada respon. Aku menabraknya lagi. Dua kali tidak ada respon dan
akhirnya dengan sentakanku yang agak keras aku mendengar lenguh panjang dan
gerakan. Syukurlah dia terbangun. Dan aku akan meminta maaf kepadanya nanti tentang perlakuanku yang
kurang sopan.
“…Jadi untuk itu apakah
kalian sudah membawa buku paket yang sempat kusinggung kemarin? Maaf anak-anak,
demi kedisiplinan aku akan memeriksa buku kalian satu persatu. Bagi yang tidak
membawa aku ingin kalian keluar dari kelas!” lanjut Mrs Andrew dengan suara menggelegar dan
membuat jantungku melompat.
Buku paket? Buku paket
apa? aku mencoba mengingatnya tapi tak menemukan apapun dalam pikiranku yang
menyangkut tentang buku paket dan bahkan aku juga belum memilikinya.
Aku memutar kepalaku ke
arah Ely yang langsung membelalakkan matanya padaku. Dia meringis sambil
mengucapkan kata maaf tanpa suara. Mengetuk dahinya dengan telapak tangannya
sendiri. Aku mengerti apa yang sedang dia lakukan. Ely menggerakkan tangannya
ke arah belakang lalu menggerak-gerakkan lima jarinya seperti bibir orang yang
berbicara kemudian menunjuk Mrs Andrew.
Aku gagal mengerti.
Sama gagalnya seperti saat aku menonton cuplikan film Charlie Chaplin diusia
lima tahun.
Setelah beberapa kali
Ely melakukan gerakan konyol itu aku sadar. Begitu sadar sampai ingin menangis.
Astaga, aku dalam masalah. Aku di toilet saat itu dan aku melewatkan instruksi
Mrs Andrew.
“Aku tahu aku
seharusnya tidak membuat kalian tidak mengikuti pelajaran hanya karena lupa
membawa buku paket kalian. Tapi mengingat pentingnya pelajaran hari ini dan
sesuai dengan kesepakatan kita bersama kemarin, aku tekankan lagi bahwa tidak
ada buku paket berarti keluar dari kelas.” Lanjut Mrs Andrew membuatku gemetar.
Bagaimana mungkin aku sudah dikeluarkan dari kelas dihari ketigaku di sini?
Mrs Andrew berjalan
pelan ke arah baris bangkuku dan memeriksa buku paket anak yang duduk di depanku.
Jantungku berdenyut keras. Aku menoleh ke Ely yang masih mengekoriku dan
mengucapkan maaf tanpa kata.
“Astaga bagaimana ini?”
bisikku padanya walaupun aku tahu dia tidak bisa mendengarnya.
Mrs Andrew sudah sampai
di bangku depanku. Baiklah lebih baik aku jujur saja bahwa aku melewatkan
pengumuman Mrs Andrew karena aku sedang di toilet waktu dia memberi intruksi.
Lagi pula aku juga belum membelinya. Dan ini salahku. Setelah mendapat sedikit
omelan aku akan mengangkat tas keluar kelas sambil mengucapkan banyak permintaan
maaf kemudian menunggu Ely di kantin sampai jadwal kelas selanjutnya. Tapi aku
tidak ingin melewatkan pelajaran ini karena aku tahu aku bodoh untuk geometri.
“Miss Steven di mana
bukumu?” Mrs Andrew sampai di mejaku. Matanya menyelidik. Mejaku masih kosong.
Aku belum mengeluarkan apapun dari tasku.
Aku memandang yang
lainnya yang ternyata menengok ke arahku. Mungkin mereka juga tidak ingin
melewatkan momen bahwa anak baru ternyata sebodoh yang bisa dibayangkan. “Kau
tidak mendengar instruksiku kemarin Miss Steven?” lanjutnya lagi.
“Ehm… Mrs Andrew maaf,
sebenarnya aku tidak bermaksud…” dan saat itu seseorang mencolek-colek
punggungku. Astaga apa ini waktu yang tepat? Aku mengacuhkannya. “…untuk tidak
membawanya tapi…” dan sekali lagi colekan super keras di punggungku membuatku
menoleh dengan kesal. “Ya?”
Sam dengan wajah
mengantuk dengan lingkaran hitam di bawah mata berbalik menatapku. “Kau
menjatuhkan bukumu di bawah kursi!” ujarnya datar. Dengan bingung aku mengikuti
arah tangannya yang mengacungkan ujung pulpen yang dipakainya untuk mencolekku
ke bawah kursiku.
Sebuah buku setebal
buku telepon berwarna hijau tergeletak di bawahku. Aku memungutnya dengan ragu
kemudian beralih ke Mrs Andrew yang tersenyum puas melihat buku itu. Kemudian
dia melewatiku begitu saja dan aku masih bingung menggenggam buku entah milik
siapa yang di bawah kursiku.
“Kau tidak lupa membawa
bukumu kan Sam?” aku melirik punggung Mrs Andrew yang sedang berbicara dengan
Sam.
Hening sesaat dan
terdengar suara tas yang diangkat dari lantai. “Maafkan aku Mrs Andrew, tapi aku
benar-benar lupa membawanya.”
Terdengar lenguhan
putus asa Mrs Andrew dan desisan, “keluar!”
Aku menoleh ke arahnya saat
itu juga dan dia menatapku sekilas sebelum bangkit berdiri sambil menyandang
tasnya keluar kelas.
XXX
“Buku ini milik Sam,”
aku memberitahu Ely sambil membuka lembaran awal buku dengan tulisan grafiti namanya
di sudut halaman. Kami berdua berada di kantin dengan Ely yang tidak bisa
berhenti mengucapkan kata maaf karena lupa memberitahuku soal buku paket itu. Aku
sungguh tidak menyalahkannya.
“Maaf benar-benar aku
lupa Julie. Tapi jangan berpikir aku sengaja melakukannya…”
“Ely berhenti meminta
maaf, lihat buku ini!”
“Baiklah,” Ujarnya ogah-ogahan
kemudian melihat nama kecil di ujung halaman sampul depan. “Ini memang bukunya
dan dia menyelamatkanmu.”
“Aku harus berterima
kasih padanya.”
“Oh, lupakan.” Sahutnya
malas sambil mengaduk-aduk minumannya. Aku memandangnya heran. “Kau tidak perlu
berterima kasih. Aku yakin dia sengaja melakukannya untuk segera keluar dari
kelas.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena dia itu tukang
bolos, tukang terlambat, pemalas… ya kau tahu semacam anak aneh yang selalu ada
di tiap SMA normal.”
Aku mengerutkan dahi. “Sam
terlihat normal-normal saja.” Ujarku. Ely mendengus.
Jaketnya memang kebesaran dan lingkaran hitam
di bawah matanya itu terlihat aneh memang. Tapi semua orang di dunia ini kan akan
memilikinya jika begadang semalaman. Apalagi setelah nonton konser. Dia juga
rajin datang. Bahkan sebelum aku tiba di sini.
“Tapi aku lihat dia
tidak terlambat tadi.” Sambungku. “ Kau tahu, aku sampai tiga puluh menit lebih
awal dan aku terus berdiri di depan loker menunggumu aku tidak melihatnya melewatiku.
Dia datang lebih dulu daripadaku.”
Ely memutar matanya.
“Nah itulah yang kumaksud. Dia semacam… kau pernah melihat film fantasi yang pemeran
utamanya adalah seseorang yang hidup di dunia khayalannya sendiri? Berjalan
menapakkan kaki di bumi tapi pikirannya melayang-layang di galaksi? Nah, dia
Sam. Kau tidak bisa menebak jalan pikirannya. Kadang dia datang satu jam lebih
awal dan kadang setengah jam sebelum bel akhir pelajaran. Setiap hari dia
datang, duduk, tidur dan pulang begitu saja. Kadang kala dia tidak masuk
sekolah berhari-hari kemudian kembali ke kelas, meminta tugas yang terlewatkan
dan mengerjakannya. Dia seperti mayat hidup.”
Aku mengamati wajah Ely
yang terlihat tidak serius sambil menotolkan kentang gorengnya ke saus mayo. “Kau
sedang bercanda ya? Mana mungkin ada anak yang semaunya sendiri seperti itu,
dia pasti sudah dikeluarkan dari sekolah.”
“Nah, itu ajaibnya si
Sam ini. Dia adalah tipe orang yang akan bekerja keras ditarikan nafas
terakhir. Para guru sudah menyerah dengan Sam. Dia sekolah semaunya sendiri,
tidak pernah mendengarkan guru di kelas, selalu tidur, membolos berhari-hari
dan dia sudah diskors beberapa kali. Tapi rasanya tidak berguna. Sam tidak
memperdulikan peringatan. Ketika sekolah sudah menyerah dan mengancamnya tidak
naik kelas, dia akan kembali ke Evey untuk meminta semua tugas yang terlewatkan
olehnya. Ditambah tugas tambahan untuk hukumannya, tentu saja. Kau bisa
membayangkan betapa mengerikkannya hal itu?” Ely melotot padaku.
“Itu pasti sangat
banyak sekali,” timpalku ngeri.
Ely mengangguk-angguk
serius. “Tapi dia selalu berhasil mengerjakannya. Alhasil dia bisa naik kelas.
Walaupun nilai kedisiplinan dan keaktifannya minus seratus tapi akademinya
selalu A. Tentu saja sekolah tidak akan mengeluarkan murid yang rata-rata
nilainya meskipun dia sering membolos.” Terang Ely lancar.
“Benarkah?” aku
memandangi lagi buku itu.
Ely mendengus. “Julie
aku sudah bersekolah di sini empat tahun lamanya dan hal itu membuatku cukup
tahu beberapa pola tingkah anak di sini, termasuk Sam!”
“Aku tidak pernah
bertemu seseorang yang seperti itu,” sahutku.
Ely tertawa pelan. “Dia
aneh. Banyak yang bilang Sam membayar orang lain untuk mengerjakan tugasnya.”
“Dia anak orang kaya?”
Ely menyeruput jusnya
dan menggeleng untuk kedua kalinya. “Aku tidak tahu dan anak lain pun tidak. Sudah
kubilang dia tidak punya teman. Dia pendiam dan terlalu dingin seperti kutub
utara.”
“Ah, tidak ada orang
yang sedingin itu di dunia ini, kalau iya, pasti dia sudah mati membeku. Kau
bercanda!”
Ely mendengus protes.
“Kau tak pernah bicara
dengannya?”
“Tidak.” Ely merapatkan
kepalanya padaku. “Rumor berkembang kalau si Sam itu seorang pelukis sensual
amatir.”
“Apa?” seruku menarik
kepalaku menjauh. Mana ada anak SMA punya
profesi seperti itu? “pelukis telanjang maksudnya?”
“Sssttt…” Ely
menempelkan jarinya kebibir. “Banyak yang sering melihat Sam berjalan dengan
banyak wanita. Tidak hanya remaja seperti kita, tapi semua wanita. Kadang
wanita tua, kadang masih muda dan kadang seumuran dengan ibuku. Sam
tertawa-tawa bersamanya, ya maksudku apa salahnya sih dengan tertawa. Tapi
untuk ukuran anak aneh yang tidak pernah bicara dengan seseorang kurasa agak mencurigakan.”
“Dia seorang pelukis?”
aku masih belum menemukan benang merah antara tertawa dengan gadis-gadis dan
pelukis amatir.
“Aku tidak tahu pasti
dia seorang pelukis sensual atau tidak. Atau hanya kedok saja. Tapi, dia selalu
mendapat nilai paling tinggi di kelas seni. Dan hanya kelas itu yang jarang dia
lewatkan.”
“Kau pernah melihat
lukisannya?” tanyaku. Aku menyukai lukisan. Kurasa aku tertarik dengan hal ini.
“Ada
beberapa lukisannya di galeri seni lantai tiga. Kau bisa melihatnya saat pergantian
jam pelajaran. Tapi Mrs Julian tidak akan membiarkanmu melakukannya tanpa ijin.
Jadi kau harus meminta ijinnya terlebih dulu untuk memasuki galerinya. Dan itu
sama mustahilnya seperti kau melihat penguin di pantai Maladewa.”
Aku
mengangguk-angguk. “Lalu gadis-gadisnya?”
Ely
menepuk dahinya sendiri. “Julie, jika kau seorang cowok, apa yang akan kau lakukan
jika bersama seorang wanita telanjang di dalam kamar?”
Tanpa berpikir aku
sudah mendapatkan jawabannya.
“Separah itu kah? Kau
yakin?” aku sanksi. “Giselle juga terlihat menyukainya ya,” aku mengingat
Giselle yang terkikik-kikik melihat Sam kemarin.
“Oh kau jangan terlalu
polos Julie, siapa sih yang tidak akan menyukainya? Dia tinggi, berambut gelap,
matanya bagus dan…” Ely membuat gerakan di udara dengan kedua tangannya
membentuk siluet gitar Spanyol. “Dia hot!
Ya walaupun gayanya acak kadut sih. Pertama kali masuk SMA dia seperti bintang
yang kelewat bersinar. Banyak yang mengejarnya. Mendekati Sam dengan banyak
cara, tapi semua gagal. Mereka bilang, mendekati Sam adalah hal paling sia-sia.
Sama sia-sianya seperti menyatukan Korea Utara dan Selatan. Jadi mereka mundur
satu-persatu. Sam begitu misterius.”
Aku terpaksa menelan
semua cerita Ely walaupun aku sangat tidak percaya. Sama tidak percayanya dengan
Dad yang berhenti minum alkohol. Dan apa perduliku dengan pekerjaannya? Aku
hanya ingin mengembalikan bukunya dan berterima kasih padanya.
“Ely, bagaimanapun juga
aku harus mengembalikan buku ini dan mengucapkan terima kasih,” lanjutku sambil
menatap kembali buku geometri bersampul hijau di tanganku.
“Ya, ya aku tahu tapi
aku hanya bisa mendoakan semoga berhasil!”
“Kenapa kau bicara
seperti itu?” tanyaku heran.
“Kau akan tahu sendiri
nanti.”
Sepanjang sisa hari itu
aku mencari Sam di seluruh penjuru sekolah dan hasilnya nihil dan ketika jam
sekolah berakhir aku sengaja menunggunya di luar kelas. Tapi aku tak
menemukannya. Akhirnya aku berpisah jalan dengan Ely. Dia harus pulang membantu
ibunya lebih awal karena adiknya sedang demam. Aku kembali berjalan menyusuri
Stanton Street dengan banyak suara Ely tentang Sam. Dan di mana Sam? Aku
benar-benar harus berterima kasih padanya.
0 komentar:
Posting Komentar