Sebenarnya udah lama pengen posting ini tapi berhubung masih asik dengan hal-hal yang lain jadi yaa... terlewatkan. =D
Masih seputar Motogp 2015 kemarin sih, yang sekarang masih panas-panasnya, walaupun udah telat banget buat ngeshare, tapi yakin deh masih bisa ngasih pandangan dikit tentang Sepang Clash sampai ke ekor-ekornya.
Artikel ni versi aslinya ada disini @matoxley
Nama penulisnya Mat Oxley, jurnalis yang udah lama banget riwa-riwi di paddock motogp dan salah satu pendukung berat Valentino Rossi plus penulis biografinya juga loh!
Kalo pendukung fanatik om Rossi yang ada di luar sana noh, yang ngomongnya udah gak karu-karuan gara-gara kekalahan Om Vale, (sampe malu-malu sendiri baca komennya orang negeri sendiri di sosmed-nya motogp. haduuuhh.... please deh, komennya kan dibaca orang di seluruh dunia!!.) coba deh tengok dulu hasil pandangan si Om Mat satu ini. He is the real loyal fan.
Mat Oxley
(Aku bantu terjemahin ke bahasa Indo, tapi yg gak tahan ma terjemahanku, bisa klik link diatas =D)
APA YANG SEBENARNYA TERJADI PADA FINAL MOTOGP 2015
By : Mat oxley 10 November 2015
Saya sebenarnya belum siap dengan
ini, tapi kurasa sekarang adalah waktu yang tepat. Ini adalah waktu untuk
berbicara sebagai pendukung Valentine Rossi. Sosial media begitu diracuni oleh
fanatik Rossi di minggu-minggu ini, yang menilaiku kejam ribuan kali karena
bersikap objektif dalam menilai fakta-fakta. Tidak hanya saya. Banyak jurnalis
motogp yang lain yang bertahun-tahun dihormati para pembacanya telah mengalami
pelecehan yang sama karena mencoba mengungkap kebenaran.
Saya menyukai Rossi sejak musim panas
2006, sejak dia berada di dalam ruang pers di hari Minggu sore, tertawa, bercanda
dengan jurnalis dan menikmati waktu tidak seperti pembalap lainnya. Beberapa
tahun kemudian kami bersama dan saya mulai menulis kolomnya, dimana saya harus
memburunya setiap Minggu sore (meskipun itu bukan hal mudah) untuk mengobrol
tentang pertandingan dan apa yang dia capai di minggu sebelumnya dan sekarang.
Satu dari obrolan ini berlangsung di samping kolam renang Rio de Janeiro, Rossi
penuh dengan bir dan sampanye, sementara
teman dan kru nya berada di kolam renang, hanya beberapa jam setelah dia
memenangkan titel 250cc. Dia selalu lucu, bercanda dengan antusiasme
pertandingan dan kehidupannya.
Kontrak kami mengenai tentang kolomnya
yang dipublikasikan di ‘majalah motor seluruh dunia-yang amatir dan yang lebih bagus'. Dia memberiku setengah jam di setiap pertandingan dan saya
memberinya sebuah CD. Aku sudah lama berada di klub London sepanjang waktu,
jadi saya punya banyak rekaman drum aneh dan bass, seperti Goklie’s
game-changing Timeless. “Goklie ini music yang aneh” seringainya.
Beberapa tahun kemudian dia
menyetujuiku untuk menulis biografinya, yang mana mensyaratkan banyak waktu
berjongkok di apartemen suram di St. James Squre, London.
Kami duduk dan bicara tentang masa
lalunya, sementara sahabatnya Uccio (Salucci) mengorok di sofa, tidur berat di
klub house. Biasanya tropi kemenangan terakhirnya di kelas 500cc berada di
bufet diantara sisa-sisa kegilaan hidup
di jalannya.
Menulis biografinya juga membawaku ke
Italia dimana saya menghabiskan banyak waktu bersama ayahnya yang luar biasa,
(satu dari idola masa kecilku) dan kehangatannya bersama ibunya. Ibunya memberi
tahuku sedikit tentang cerita menarik dari anaknya, tapi apa yang ku dapat
paling banyak adalah cerita Rossi kepada ibunya ketika dia kembali ke rumah
dari lintasan minimoto, bicara tentang
adrenalin dan lusinan tentang hala itu. Ibunya berkata ini bukan hanya tentang dunia racing
yang dicintai Valentino tapi segala sesuatu tentang kehidupan di paddock. Dia
sangat menyukai semua itu dan tentunya ini menjadi alasan utama untuk umur
panjang menakjubkannya.
Saya menyukai Rossi karena cara dia
bertanding, seperti pejuang. Lebih lagi yang kusuka dari dirinya adalah
seseorang yang : cerdas, lucu, berpikiran bebas, sama seperti orangtuanya.
Tapi saya punya sedikit keraguan bahwa dia
adalah orang yang baik, sesuatu yang tidak bisa dikatakan dari banyak pembalap
yang mencakar jalan mereka ke puncak olahraga kejam dan jahat.
Dia memang hebat di kelas 250 cc,
sampai ke kelas 500 cc dan sangat tidak terkalahkan di Honda 4 tak kelas
Motogp, meskipun dia sangat kehilangan getaran hebatnya di kelas 500 cc dua
tak.
Sebagai jurnalis ini adalah pekerjaan
saya untuk menjadi netral, tidak memihak, tidak berat sebelah tapi Rossi sangat
sukses dan sangat disukai jadi sangat tidak mungkin menuliskan sesuatu yang
buruk tentangnya. Meskipun ketika kompetisi menjadi lebih keras dan kekejamannya
mulai merembes keluar, aku tidak peduli. Saya tidak pernah berpikir dia
menjadi lembut dan lunak. Dia adalah
pembalap motor, pelaku utama di salah satu dunia kecepatan dan olahraga
mematikan. Kau tidak akan awmenjadi raja di kelas raja tanpa menjadi egois dan jahat, ketika saat yang dibutuhkan. abaikan senyum dan lambaian ramah. Itu hanya seringai riang persembahan
sang pembunuh.
Pertama perselisihannya – keduanya
berada di dalam lintasan dan luar lintasan – Max Biaggi dan Sete Gibernau. Intinya,
seorang Roma dan seorang Spanyol terlalu mudah untuk Rossi. Kemudian datang
Nicky Hayden, seorang gentleman selama pertandingan mereka di tahun 2006,
dimana Rossi menderita segala macam nasib buruk, dimana pertarungan mereka
adalah contoh terbaik dari pertandingan olahraga. Kau tidak akan menemukan
sebuah perbedaan diantara pertarungan memikat saat final dan kepahitan dari
Minggu terakhir di Valencia.
Kemudian datang Casey Stoner, seorang
pembalap berbakat yang menyamai dan kadang lebih dari pembalap popular lainnya.
Rossi sangat pandai, jadi dia tahu karirnya menjadi lebih rumit ketika dia tahu
generasi baru telah datang, membawa kemampuan baru dan semangat lebih. Kemudian
datang Jorge Lorenzo. Rossi menunjuk mereka sebagai hiu yang memburunya.
Dan kemudian Marc Marquez datang.
Akhirnya, ada rival yang tercipta dari imej Rossi pribadi. Marquez telah
menonton dan memuja Rossi sejak dia kecil, tidak mengejutkan jika dia menjadi
seringai pembunuh seperti idolanya.
Di Catalunya 2008 ketika Marquez
masih menjadi pembalap usia sekolah, dia meminta seorang jurnalis dan
fotografer Spanyol untuk berkenalan dengan idolanya (Rossi), dan Rossi
memberinya hadiah mobil mainan. “Ah” kata Rossi. “Kau sangat pemberani Marc…”
Mereka bilang kau seharusnya tidak
pernah bertemu dengan idolamu dan mungkin mereka benar. Rossi adalah pembalap
yang kejam di lintasan sampai Marc Marquez datang. Kapan saja dia harus
bertarung satu lawan satu dengan rival-rival sebelumnya, Rossi selalu menjadi
pemenang. Biaggi, Gibernau, Stoner, mereka semua jatuh tersengat di bawah insting
pembunuhnya. Tapi sekarang ada pemuda gila yang mau sekarat hanya untuk memberi
yang terbaik dari yang bisa dia dapat.
bersambung part2


0 komentar:
Posting Komentar