Jumat, 20 November 2015

Berbagi Pandangan Seorang Pendukung Setia Valentino Rossi part 1

Posted by Unknown on 05.32 with No comments
Sebenarnya udah lama pengen posting ini tapi berhubung masih asik dengan hal-hal yang lain jadi yaa... terlewatkan. =D
Masih seputar Motogp 2015 kemarin sih, yang sekarang masih panas-panasnya, walaupun udah telat banget buat ngeshare, tapi yakin deh masih bisa ngasih pandangan dikit tentang Sepang Clash sampai ke ekor-ekornya.
Artikel ni versi aslinya ada disini @matoxley
Nama penulisnya Mat Oxley, jurnalis yang udah lama banget riwa-riwi di paddock motogp dan salah satu pendukung berat Valentino Rossi plus penulis biografinya juga loh!
Kalo pendukung fanatik om Rossi yang ada di luar sana noh, yang ngomongnya udah gak karu-karuan gara-gara kekalahan Om Vale, (sampe malu-malu sendiri baca komennya orang negeri sendiri di sosmed-nya motogp. haduuuhh.... please deh, komennya kan dibaca orang di seluruh dunia!!.) coba deh tengok dulu hasil pandangan si Om Mat satu ini. He is the real loyal fan.

                                                                     Mat Oxley

(Aku bantu terjemahin ke bahasa Indo, tapi yg gak tahan ma terjemahanku, bisa klik link diatas =D)

APA YANG SEBENARNYA TERJADI PADA FINAL MOTOGP 2015

By : Mat oxley 10 November 2015

Saya sebenarnya belum siap dengan ini, tapi kurasa sekarang adalah waktu yang tepat. Ini adalah waktu untuk berbicara sebagai pendukung Valentine Rossi. Sosial media begitu diracuni oleh fanatik Rossi di minggu-minggu ini, yang menilaiku kejam ribuan kali karena bersikap objektif dalam menilai fakta-fakta. Tidak hanya saya. Banyak jurnalis motogp yang lain yang bertahun-tahun dihormati para pembacanya telah mengalami pelecehan yang sama karena mencoba mengungkap kebenaran.

Saya menyukai Rossi sejak musim panas 2006, sejak dia berada di dalam ruang pers di hari Minggu sore, tertawa, bercanda dengan jurnalis dan menikmati waktu tidak seperti pembalap lainnya. Beberapa tahun kemudian kami bersama dan saya mulai menulis kolomnya, dimana saya harus memburunya setiap Minggu sore (meskipun itu bukan hal mudah) untuk mengobrol tentang pertandingan dan apa yang dia capai di minggu sebelumnya dan sekarang. Satu dari obrolan ini berlangsung di samping kolam renang Rio de Janeiro, Rossi penuh  dengan bir dan sampanye, sementara teman dan kru nya berada di kolam renang, hanya beberapa jam setelah dia memenangkan titel 250cc. Dia selalu lucu, bercanda dengan antusiasme pertandingan dan kehidupannya.

Kontrak kami mengenai tentang kolomnya yang dipublikasikan di ‘majalah motor seluruh dunia-yang amatir dan yang lebih bagus'. Dia memberiku setengah jam di setiap pertandingan dan saya memberinya sebuah CD. Aku sudah lama berada di klub London sepanjang waktu, jadi saya punya banyak rekaman drum aneh dan bass, seperti Goklie’s game-changing Timeless. “Goklie ini music yang aneh” seringainya.

Beberapa tahun kemudian dia menyetujuiku untuk menulis biografinya, yang mana mensyaratkan banyak waktu berjongkok di apartemen suram di St. James Squre, London.

Kami duduk dan bicara tentang masa lalunya, sementara sahabatnya Uccio (Salucci) mengorok di sofa, tidur berat di klub house. Biasanya tropi kemenangan terakhirnya di kelas 500cc berada di bufet diantara sisa-sisa kegilaan hidup di jalannya.

Menulis biografinya juga membawaku ke Italia dimana saya menghabiskan banyak waktu bersama ayahnya yang luar biasa, (satu dari idola masa kecilku) dan kehangatannya bersama ibunya. Ibunya memberi tahuku sedikit tentang cerita menarik dari anaknya, tapi apa yang ku dapat paling banyak adalah cerita Rossi kepada ibunya ketika dia kembali ke rumah dari lintasan minimoto,  bicara tentang adrenalin dan lusinan tentang hala itu. Ibunya berkata ini bukan hanya tentang dunia racing yang dicintai Valentino tapi segala sesuatu tentang kehidupan di paddock. Dia sangat menyukai semua itu dan tentunya ini menjadi alasan utama untuk umur panjang menakjubkannya.

Saya menyukai Rossi karena cara dia bertanding, seperti pejuang. Lebih lagi yang kusuka dari dirinya adalah seseorang yang : cerdas, lucu, berpikiran bebas, sama seperti orangtuanya.
Tapi saya punya sedikit keraguan bahwa dia adalah orang yang baik, sesuatu yang tidak bisa dikatakan dari banyak pembalap yang mencakar jalan mereka ke puncak olahraga kejam dan jahat.

Dia memang hebat di kelas 250 cc, sampai ke kelas 500 cc dan sangat tidak terkalahkan di Honda 4 tak kelas Motogp, meskipun dia sangat kehilangan getaran hebatnya di kelas 500 cc dua tak.

Sebagai jurnalis ini adalah pekerjaan saya untuk menjadi netral, tidak memihak, tidak berat sebelah tapi Rossi sangat sukses dan sangat disukai jadi sangat tidak mungkin menuliskan sesuatu yang buruk tentangnya. Meskipun ketika kompetisi menjadi lebih keras dan kekejamannya mulai merembes keluar, aku tidak peduli. Saya tidak pernah berpikir dia menjadi  lembut dan lunak. Dia adalah pembalap motor, pelaku utama di salah satu dunia kecepatan dan olahraga mematikan. Kau tidak  akan awmenjadi raja di kelas raja tanpa menjadi  egois dan jahat, ketika saat yang dibutuhkan. abaikan senyum dan lambaian ramah. Itu hanya seringai riang persembahan sang pembunuh.

Pertama perselisihannya – keduanya berada di dalam lintasan dan luar lintasan – Max Biaggi dan Sete Gibernau. Intinya, seorang Roma dan seorang Spanyol terlalu mudah untuk Rossi. Kemudian datang Nicky Hayden, seorang gentleman selama pertandingan mereka di tahun 2006, dimana Rossi menderita segala macam nasib buruk, dimana pertarungan mereka adalah contoh terbaik dari pertandingan olahraga. Kau tidak akan menemukan sebuah perbedaan diantara pertarungan memikat saat final dan kepahitan dari Minggu terakhir di Valencia.

Kemudian datang Casey Stoner, seorang pembalap berbakat yang menyamai dan kadang lebih dari pembalap popular lainnya. Rossi sangat pandai, jadi dia tahu karirnya menjadi lebih rumit ketika dia tahu generasi baru telah datang, membawa kemampuan baru dan semangat lebih. Kemudian datang Jorge Lorenzo. Rossi menunjuk mereka sebagai hiu yang memburunya.

Dan kemudian Marc Marquez datang. Akhirnya, ada rival yang tercipta dari imej Rossi pribadi. Marquez telah menonton dan memuja Rossi sejak dia kecil, tidak mengejutkan jika dia menjadi seringai pembunuh seperti idolanya.

Di Catalunya 2008 ketika Marquez masih menjadi pembalap usia sekolah, dia meminta seorang jurnalis dan fotografer Spanyol untuk berkenalan dengan idolanya (Rossi), dan Rossi memberinya hadiah mobil mainan.  “Ah” kata Rossi. “Kau sangat pemberani Marc…”

Mereka bilang kau seharusnya tidak pernah bertemu dengan idolamu dan mungkin mereka benar. Rossi adalah pembalap yang kejam di lintasan sampai Marc Marquez datang. Kapan saja dia harus bertarung satu lawan satu dengan rival-rival sebelumnya, Rossi selalu menjadi pemenang. Biaggi, Gibernau, Stoner, mereka semua jatuh tersengat di bawah insting pembunuhnya. Tapi sekarang ada pemuda gila yang mau sekarat hanya untuk memberi yang terbaik dari yang bisa dia dapat.

bersambung part2

0 komentar:

Posting Komentar