Jumat, 14 Oktober 2016

Monet, Who Are You? (part 3)

Posted by Unknown on 18.13 with No comments
YANG TERAKHIR DATANG
Sekolah baruku, Evey, berjarak enam blok dari flat. Sekolah yang pertama kali direkomendasikan Mr and Mrs Joice sebagai SMA terdekat. Aku memang belum memiliki teman di kota ini dan aku harap aku mulai mendapatkan teman dihari keduaku di sini.
Evey adalah sekolah dengan bangunan khas jaman Victoria. Bangunan dari batu bata merah yang tergencet di antara kantor notaris dan toko peralatan alat tulis yang selalu ramai pembeli. Kebanyakan pembeli dari murid Evey sendiri.
Sesuai dengan susunan bangunan di LES yang berdempet, sekolah ini tidak memiliki halaman luas kecuali aula besar untuk mengikuti pelajaran olahraga secara bergantian. Selebihnya hanya bangunan bertingkat dengan deretan kelas-kelas dan koridor lebar yang saling berhubungan seperti labirin. Dari luar, tempat ini tampak seperti bangunan lama yang biasa digunakan untuk pameran lukisan. Kecuali jika sempat membaca plakat besar bertuliskan Sekolah Evey di dinding luarnya.
Hanya satu murid cewek yang kukenal yang sudah berbaik hati mengantarku ke kelas kimia kemarin. Aku sengaja terus mengingat namanya. Lebih baik tahu satu nama daripada tidak sama sekali. Membuatku benar-benar merasa nyata menginjakkan kaki di sini.
Aku membuka lokerku. Memandang pantulan bayangan wajahku sendiri di pecahan cermin kecil di dalam loker baruku. Tidak, aku tidak dengan sengaja memasangnya di dalam loker, tapi cermin itu sudah berada di sana sejak aku membuka loker itu untuk pertama kali.
Rambut rapi.Aku menguncir rambut gelapku yang tebal dengan ekor kuda. Tatanan rambut 30 detikku. Bibirku pecah-pecah. Aku malas minum akhir-akhir ini. Baiklah cukup. Aku hanya bisa menyelamatkan penampilanku dengan merapikan rambutku saja. Aku mengabaikan pipiku yang semakin tirus karena kehilangan lima kilo berat badanku selama dua minggu berada di LES. Aku menyambar daftar kelasku kemudian menutup lokerku.
“Hei anak baru!” seseorang menyapaku, aku berbalik dan melihat Ely sedang membuat rambut kriting ikalnya yang panjang bergoyang-goyang seperti pegas di antara kedua bahunya ketika dia berjalan.
“Hai Ely!” aku menyapanya kembali.
Cewek kulit pucat itu memakai kaos panjang warna kelabu dan menyandang tasnya dengan satu bahu. “Kelas geometri hari ini kan?” lanjutnya.
Aku kembali menyusuri daftar kelasnya dengan ujung jari. “Ya, jam pertama geometri. Kita sekelas?”
Ely mengangguk. “Aku masih ingat daftar kelasmu kemarin. Jadi aku menghampirimu. Kita sekelas pagi ini!” Ia berujar ceria.
Baguslah, aku tidak akan sendirian. Anak baru memang selalu jadi tontonan. Memiliki satu teman untuk berjalan rasanya normal. Kukira aku menyukai Ely, dia seperti Ron untuk Harry Potter. Pertama kali aku menanyakan di mana kelas kimia, dia baru saja keluar dari toilet. Rambutnya basah, dadanya naik turun cepat dan dia melompat kaget saat aku menepuk punggungnya.
“Oh kau,” serunya waktu itu sambil mencengkeram dadanya.
“Maaf aku mengagetkanmu.”
“Tidak apa, ada apa?” Ely menyipitkan matanya ke arahku cukup lama untuk menilai. “Kau baru?” Aku mengangguk. “Dan kau dari?”
“Ann Arbor.” Jawabku langsung. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal untuk berbohong waktu itu. Dan tidak ada alasan untuk berbohong.
Mata Ely membulat. Aku ingat saat aku menoleh ke belakang untuk memastikan mata membulat itu untukku. Dan ternyata memang untukku. Karena tepat di belakangku hanya berdiri tembok padat yang lembab.
“Wow,” serunya. Ekspresinya sama seperti Ron saat pertama kali bertemu Harry Potter di dalam kereta dan melihat sambaran petir tepat di dahinya. Aku tidak yakin apakah bibirku yang pecah-pecah sama menariknya dengan itu. “Aku pernah ke stadion Michigan dan bertemu cowok super hot di sana.”
Aku menganga takjub. Aku tidak tahu bahwa seseorang yang berasal dari Ann Arbor yang kebetulan punya Stadion Michigan dan cowok super hot yang sekarang tampak seperti Henry Cavil dibayanganku mampu membuat seseorang terlihat seperti Harry Potter.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya membangunkanku.
“Oh ya…,” aku membuka jadwal kelasku lagi dan menyodorkan padanya. “Kau bisa membantuku menemukan kelas Kimia?”
Ely mejawab ya dan menggandeng tanganku ke kelas Kimia. Sementara dalam hati, aku berterima kasih pada Stadion Michigan dan cowok Henry Cavilnya. Catatan : aku belum pernah mengunjungi stadion Michigan.
XXX
Kelas geometri sudah terisi belasan anak dan mereka sedang membuat kegaduhan seperti biasa. Empat cewek dan dua cowok sudah pernah aku lihat di kelas kimia kemarin. Sisanya aku belum pernah bertemu dengan mereka.
“Hei anak baru, kau mau duduk di sebelahku?” celetuk cowok berambut pirang cepak. Wajahnya nyengir usil sembari mengelus meja kosong di sebelahnya. Dia duduk di bangku dekat pintu masuk. Kanan kirinya diapit cowok-cowok lain. Satu cowok yang duduk di belakangnya tampak menonjol daripada yang lainnya. Badannya sebesar gorila.
“Frank berhenti bermulut besar!” sahut Ely sambil memutar matanya padaku.
“Kaki katak, kau mau berkencan dengan Frank sebelum dia mengajak kencan si anak baru?” sahut cowok yang berbadan gorila.
“Oh, kau bermimpi Blake!” Ely mengatakannya dengan tangan mengibas seperti sedang membuang permen karet yang menempel di tangannya.
“Ely sayang kau pasti hanya bermimpi untuk itu!” sahut anak perempuan berambut kastanye panjang, lurus dan mengkilat. Dia duduk di atas meja sambil mengikir kuku kakinya. “Dunia akan hancur terlebih dulu jika itu terjadi.” Tambahnya tanpa mengangkat wajahnya dari kuku panjangnya yang menarik. Aku belum pernah bertemu dengannya.
Dia cantik. Warna kulitnya seperti cewek-cewek yang berasal dari Florida. Mendapatkan matahari penuh setiap hari. Wajahnya tirus dengan tulang pipi menonjol. Aku yakin agensi model akan senang menerima cewek dengan wajah yang akan tampak bagus berada di sampul majalah.
Aku melirik tanganku sendiri kemudian mengepalkannya lagi. Menyembunyikannya di balik punggungku. Aku memang tidak sepucat Ely, tapi tetap saja warna kulitku tidak menarik.
“Thanks Giselle! Apa kabar kuku kakimu?” balas Ely.
Dia mengangkat wajah dari kukunya dan menatap pedas Ely. “Sudah tumbuh dengan sehat dan mereka cantik!”
“Syukurlah!” balas Ely bosan. Kemudian dia menarik tanganku ke meja kosong di bagian belakang. “Jangan khawatir, mereka akan berhenti menggodamu paling tidak seminggu lagi.” Tambah Ely padaku saat melihatku bingung menatap si rambut kastanye.
“Tidak, tidak apa. Aku tahu itu. Oh ya kenapa dengan kuku kakinya?”
Ely menatap belakang kepala si kastanye dan mendengus, “si gadis cantik kehilangan kuku kakinya yang indah ketika Blake mendorongku dengan sengaja saat antri makan siang dan aku tidak sengaja menginjak kakinya.”
“Oh,” sahutku sambil kembali melirik rambut kastanye. Dia sudah kembali mengikir kukunya dengan serius.
“Jadi ceritakan tentang dirimu dan di mana kau tinggal?” kata Ely lagi. Tapi ketika aku mulai bicara tentang rumah lamaku, Mrs Andrew masuk ke kelas dan memotong percakapan kami. Ely memutar lagi matanya padaku dan mengatakan, “Kita bisa melanjutkannya saat makan siang.”
Kemarin kata Ely, Mrs Andrew guru geometri yang paling disiplin dan ditakuti. Bertubuh besar dan tegap. Matanya penuh waspada dan pandangannya akan membuat orang yang dipandang merasa sedang membuat kesalahan. Kemarin aku tidak terlalu percaya, tapi setelah bertemu dengannya, kurasa Ely benar.
Pelajaran sudah berjalan sekitar satu jam ketika seseorang mengetuk pintu. Membuyarkan atmosfer tegang seising kelas saat mendengar penjelasan Mrs Andrew tentang cara menyelesaikan soalnya. Soal yang sudah dibagi barang dua menit setelah dia masuk kelas.
Mrs Andrew dan seluruh isi kelas termasuk aku mengalihkan pandangan dari papan tulis ke pintu yang sedang terbuka. Cowok dengan jaket abu-abu berdiri di ambang pintu. Jaketnya berukuran besar. Terlalu besar untuk tubuhnya yang ramping tinggi. Panjang lengan jaketnya melenyapkan tangannya. Wajahnya pucat ditambah dua lingkaran hitam di kantung matanya. Rambut cokelat tebal mencuat ke segala arah. Sepertinya dia langsung berangkat ke sekolah tanpa mencuci muka terlebih dulu.
“Maaf , Mrs Andrew,” ujarnya .
 Aku dengar Giselle si rambut kastanye mengikik di balik tangannya lalu mengaduh ketika kuku tangannya menusuk bibirnya.
“Aku tahu ini tidak berguna tapi aku ingin tahu kenapa kau melewatkan satu jam penuh pelajaranku,” balas Mrs Andrew tajam.
“Konser musik.” Jawabnya cepat. “Aku bangun terlalu telat.”
Mrs Andrew menyipit memandangnya. Aku heran cowok itu tidak mengerut ketakutan. Dia masih berdiri di ambang pintu dengan santai. Seolah sudah terbiasa dengan pandangan menusuk Mrs Andrew.
“Duduk!” perintah Mrs Andrew singkat. Membuatku terkejut. Setelah pandangannya yang begitu menusuk, dia menyuruh cowok itu duduk begitu saja? Katanya dia guru paling disiplin? Aku memandang ke anak yang lain, dan mereka tampak biasa saja.
“Terima kasih Mrs Andrew.” Jawab cowok itu kemudian bergegas ke satu-satunya bangku kosong di sebelah Giselle. Dia duduk dengan pelan lalu melepas jaketnya untuk memperlihatkan kaos oblong polos berwarna biru laut yang sama kebesarannya seperti jaketnya.
“Kaos yang bagus!” Aku mendengar Giselle berbisik padanya. Si cowok baju kebesaran itu memandangnya dan tersenyum ringan. Ely mendengus dan membisikkan kata yang beakhiran ‘jalang’.
Mrs Andrew kembali melanjutkan pelajarannya. Tapi aku masih memandang ke arah cowok yang baru masuk kelas barusan. Dia sedang menatap papan tulis dengan pandangan kosong. Lima belas menit kemudian, dia meletakkan wajahnya di atas meja. Matanya terpejam erat. Dia tidur.
Aku menoleh ke Ely yang jelas tidak memperhatikan cowok itu sepertiku. Giselle melirik ke arahnya tapi membiarkannya. Sedikit membuatku khawatir bagaimana jika Mrs Andrew membalik tubuhnya dan melihat salah satu muridnya terlelap di kelasnya. Pasti akan terjadi kegaduhan.
Sayang, dugaanku salah. Mrs Andrew hanya meliriknya lalu mengabaikannya. Membuatku heran, bagaimana hal itu bisa terjadi.
XXX
Ely berlari dari kelas biologinya secepat kaki pendeknya. Aku sedang menunggunya di koridor menuju kantin saat jam makan siang. Agak menyembunyikan diri di antara tumbuhan dalam pot untuk menghindari pandangan anak lain. Kali ini aku tidak sekelas dengannya karena jadwalku di kelas bahasa Jerman.
“Ada apa?” tanyaku saat dia kembang kempis menghampiriku. Dahinya mengkilat basah.
“Blake,” sahutnya sambil mencengkeram dadanya, “dia membawa katak dan sedang berusaha memasukkannya ke dalam bajuku. Dasar sinting!”
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Tenanglah, ini bukan hal baru. Dia musuhku sejak kelas sembilan. Jangan kaget jika tiba-tiba kau tidak menemukanku di mana pun. Atau jika tiba-tiba aku menghilang dari sisimu saat kita berjalan.” Lanjutnya di antara tarikan berat nafasnya. “Jika suatu saat hal itu terjadi, kau tinggal mencari Blake dan tanyakan keberadaanku. Palingan aku dikunci di kamar sapu.”
“Jahat sekali!” seruku.
“Sudah jangan dipikirkan! Aku pasti membalasnya. Ayo ke atas, aku haus sekali,” lanjutnya santai. Rupa-rupanya berperang dengan Blake adalah kegiatan rutin di samping jadwal kelasnya.
Setelah mengantri makan siang, aku dan Ely yang sudah menegak kotak susunya sampai habis mengambil satu meja kosong yang tersisa. Saat itu tampak tubuh besar Blake dan si ceking Frank masuk ke dalam kantin. Ely terlonjak kaget.
“Sialan!” serunya. Sedetik kemudian mereka saling pandang. Blake memincingkan satu matanya penuh dendam kemudian Ely menunjukkan jari tengah kearahnya.
“Apa yang terjadi?” tanyaku heran.
“Kau akan mengerti sendiri nanti. Aku tidak akan menjelaskannya.” Jawab Ely singkat sambil menekan-nekan sendoknya ke arah nampan dengan kesal.
Aku dan Ely melanjutkan percakapan yang sempat terputus pagi tadi. Menurut ceritanya,  Ely berasal dari Brooklyn. Dia terpaksa pindah karena ayahnya ditugaskan di LES. Ayahnya bekerja di kantor imigran dan ibunya membuka toko peralatan dapur di dekat apartemennya.
Dia punya adik hiperaktif umur empat tahun bernama Tom dan seorang kakak bernama Nathan yang tampak enggan diceritakannya.
Ely seseorang yang menyenangkan. Banyak sekali bicara tapi dia sangat mendengarkanku saat giliranku bercerita. Mungkin karena ceritaku tidak terlalu ribet. Remaja korban perceraian dan pindah tempat tinggal, itu saja.
Sejauh pengamatanku, Ely sepertinya selalu sendiran. Waktu aku bertanya kenapa dia menjawab:
“Kau pasti tahu  betapa kerasnya dunia SMA kan? Nah, mungkin aku sedang menjadi korbannya saat ini. Tapi hei Julie, kau pasti tidak mau berteman dengan mereka yang hanya memikirkan gaya berpakaianmu dan seberapa banyak cat yang tumpah di kukumu kan?”
Aku menyetujuinya.
“Kau bilang tinggal di flat diatas toko?” lanjut Ely. “Kau punya rencana membuka usaha di sana?”
“Entahlah, berhasil mendapatkan flat itu saja sudah membuatku heran. Itu tempat terbaik yang bisa kami temukan di antara banyak tempat buruk yang harga sewanya mencekik leher kami. Kurasa kami belum punya rencana dengan lantai bawah.”
“Kau tahu, memiliki ruang kosong di LES dan tidak mempergunakannya untuk menghasilkan uang adalah hal yang sangat buruk. Eh, tentu aku tidak mengejekmu, cuma kau tahu kan kita berada di gerbang awal New York. Kau harus berusaha menghasilkan sesuatu sebelum pindah ke tempat sebenarnya.”
“Tempat sebenarnya?”
“LES cuma tempat persinggahan imigran. Orang-orang akan berada di sini untuk bekerja sampai mampu menyewa flat di kawasan Central Park. Tapi tentu jika mereka mampu bertahan di sini.”
Ucapan Ely sedikit menohok dadaku. Bukan karena dia salah bicara, tapi karena dia benar. Membuatku kembali cemas berada di kota ini. Segalanya begitu dipertaruhkan.
Aku menatap kearah wajahnya Ely yang pucat sambil berpikir.
“Ely, apa kau menyesal tinggal di sini?” Ely dengan cepat mendongak menatapku, matanya yang biru melebar kaget. “Maaf, aku tidak bermaksud…”
Ely tertawa. “Hey aku tidak sedramatis itu Julie, tenang saja! Aku memang ingin keluar dari kota ini. Aku tahu itu pasti akan kulakukan setelah lulus SMA dan bergembiralah kita berada di tahun terakhir masa ini.”
Ely benar, ini adalah masa terakhir masa SMA-ku. Aku harus bersenang-senang seperti lainnya. Tapi sejak berada di Ann Arbor, aku tidak tahu bagaimana cara bersenang-senang seperti remaja lainnya. Bertemu orangtuaku di rumah adalah hal yang horor untukku.
Sepuluh menit sebelum jam makan siang berakhir, banyak anak mulai turun dari kantin dan hanya meninggalkan beberapa anak saja. Aku hendak mengajak Ely menyusul yang lainnya ke kelas ketika aku melihatnya. Cowok yang terlambat di kelas geometri tadi berjalan masuk dengan wajah basah kuyup. Dia mengambil jatah makan siangnya kemudian duduk di satu meja kosong di seberangku.
Dia meletakkan pantatnya di kursi begitu saja tanpa susah-susah memandang ke seluruh kantin untuk menemukan temannya yang lain. Dia mulai makan dengan pelan. Wajahnya masih tampak mengantuk. Beberapa tetes air dari rambut basahnya menjatuhi nampannya.
Aku mengawasinya dari jauh sambil membatin, mungkin dia adalah korban kehidupan keras di SMA. Pendiam, pakaiannya tidak gaya dan tidak punya teman. Lima menit kemudian setelah menghabiskan makanannya dengan cepat, dia memandang ke arah dinding kaca di sebelahnya. Dinding yang memperlihatkan pemandangan kota. Terdiam termenung.
“Siapa dia?” tanyaku pada Ely.
Ely mengikuti pandanganku. “Oh, dia Sam. Kenapa?”
“Tidak ada.”
XXX
Menyusuri blok di Stanton Street yang sepi dengan pertokoan kemudian menyeberangi perempatan sampai kekawasan pertokoan Orchard Street. Kawasan paling ramai di LES. Ini adalah rute berbeda dari ruteku yang kuambil pagi tadi.
“LES tidak besar Julie. Jika kau mau berjalan dari flat ke sekolah tanpa bus dan mengganti tiap rute perjalanan setiap hari, aku jamin kau akan mengenal LES seminggu sejak berada di sini.” Saran Ely sewaktu kami berpisah di gerbang sekolah. “Tapi tentu jangan lupa memakai deodoran.” Tambahnya membuatku tertawa.
Mau tidak mau aku menyetujuinya. Aku harus mengenal lingkungan baruku dan mulai mencintainya. Lagipula dengan begitu aku bisa mengurangi ketergantunganku akan taksi sekaligus menghemat biaya transportasi.
Mum tentu saja sudah berada di flat dan tampak sangat lelah. Dia adalah perawat di rumah sakit kecil di tempat asalku. Sekarang dia menjadi perawat rumahan seorang wanita sebayanya yang lumpuh dan dilupakan suaminya, Grace. Diabetes menggerogoti tubuhnya sejak muda dan diperparah gangguan jantungnya. Grace adalah kenalan pasangan Joice dan mereka yang merekomendasikan Mum kepadanya.
“Grace sangat menyenangkan,“ ujarnya. “Ternyata dia senang sekali bercerita dan lucu. Heran, kenapa suaminya begitu tega meninggalkannya.” Ujarnya setelah pertemuan pertama kalinya dengan Grace.
Kami sedang berada di dapur kecil kami. Yang semua barang-barangnya adalah hasil pinjaman dari Mrs Joice yang baik hati. Mrs Joice menganggap peralatan dapurnya yang sudah kuno tidak akan pernah mendapatkan tempat di lingkungannya yang baru. Jadi lebih baik dia meninggalkannya saja di sini daripada repot-repot mengirimnya ke Chicago.
Mum berdiri membelakangiku, memakai celemek berbunga juga bekas milik Mrs Joice dan sedang mencuci gelas. Aku duduk di meja kecil di depannya. Meja yang sangat kecil dengan pelitur yang sudah berbocel-bocel tapi masih terlihat kokoh dengan sisa-sisa ukiran meja minum teh yang menawan.
Sejauh yang bisa kulihat, aku tahu aku akan makan makanan sisa kemarin malam ini. Aku tak menemukan secuilpun warna merah daging atau bulatan kuning telur atau bahkan warna pucat berpori kulit ayam. Tidak ada sayur-sayuran hijau segar atau semacamnya. Yang kulihat hanya separuh potongan roti, mustar, selada lembek sisa kemarin dan keripik kentang yang juga sisa kemarin. Semua sedang berjajar rapi di atas meja. Melenyapkan selera makanku.
“Maafkan aku,” ujarnya tiba-tiba. Dia menangkap pandangan mataku. “Aku belum tahu tempat untuk berbelanja bahan makanan yang murah Julie. Jadi hidangan malam kita hanya ini. Tidak apa-apa kan?” Mum menggigit bibir bawahnya.
Mungkin Mum bilang dia belum menemukan tempat murah untuk berbelanja tapi aku tahu pasti, dia belum punya uang lebih untuk membeli seseuatu yang enak untuk makan malam.
Aku mengangguk ke arahnya dengan yakin seperti aku tak pernah membenci selada lembek sebelumnya. “Tidak apa Mum, besok aku akan bertanya pada Ely. Mungkin dia bisa merekomendasikan tempat yang bagus untuk kita. Oh ya, bibi Nichols tadi pagi menelepon. Aku mengangkatnya sebelum berangkat ke sekolah. Dia bilang, dia hanya mencoba apakah nomor telepon flat ini berfungsi.”
“Benarkah?” Aku mengangguk. “Aku tahu dia mengkhawatirkan kita tapi dia selalu saja bercanda. Apa dia masih bertanya tentang pasangan Joice? Dia terbahak ketika mendengar ceritaku, menurutnya mereka pasangan lucu.” Sahutnya senang.

Dan sekali lagi aku menganggukkan kepalaku padanya. Bibi Nichols tidak terbahak, itulah kenyataan sebenarnya. Tapi dia menangis. Menangis sampai tidak bisa berbicara. Sehingga selama sepuluh menit aku harus berdiri bersandar di dinding dan berbicara terus di corong telepon untuk menenangkannya. Bibi Nichols sangat mengkhawatirkan kami.
lanjut bab 3

0 komentar:

Posting Komentar