Jumat, 14 Oktober 2016

Monet, Who Are You? (part 2)

Posted by Unknown on 18.20 with No comments
GADIS PEMELUK BUNGA
Sudah enam belas kali dalam dua jam terakhir mataku membuka dan menutup. Bukan karena suara kendaraan yang berlalu lalang tepat di bawah kamarku. Ataupun suara-suara klakson tidak sabar ketika lampu merah menjadi hijau dengan cepat. Tapi berada di sini membuatku cemas.
Baru dua minggu menghirup udara asing sejak kepindahanku dan Mum dari Ann Arbor ke Lower East Side atau LES. Kota pinggiran dengan banyak daerah kumuh dan biaya hidup lebih murah dibanding seluruh daerah bagian Manhattan.
Perceraian Mum dan Dad. Sebagai hasil akhir pertengkaran mereka setiap hari. Masalah ketidakberdayaan kami tentang ekonomi menjadi pemicu terbesar pertama. Alasan yang kedua adalah Dad benar-benar pria yang harus kami hindari jika tidak mau hidup menderita.
Dad memang sangat menguras emosi dan fisik kami selama bertahun-tahun. Tapi di antara kegiatannya memukuli Mum dan menyedot alkohol, dia masih sempat memberiku uang saku lebih untuk membeli satu gaun di toko vintage untuk pesta dansa terakhirku di sekolah lamaku.
“Julie, aku tahu ini tidak banyak, tapi aku tahu tempat baju murah di ujung jalan. Maksudku kata temanku.  Kau ingat Tayle kan? Nah, ambil ini dan belilah baju yang bagus untuk pestamu,” ujarnya pagi itu ketika aku masih berada di atas ranjang. Dia menyelipkan tiga puluh dolar ke tanganku kemudian pergi. Sedetik kemudian dia kembali menoleh dan berkata, “Julie, boleh pinjam lima dolar?”
Itu hanya satu kebaikan Dad yang masih bisa kuingat. Hanya itu. Selebihnya aku dan Mum sudah tidak tahan. Setelah aku mendapat enam jahitan tepat di punggungku, itu pertama kalinya aku melihat Mum memutuskan sesuatu yang benar. Mum menceraikannya.
Satu masalah terselesaikan dan satu masalah lain menanti. Aku benar-benar menyesali keputusan Mum. Tiga puluh dolar kurang lima dolar mungkin bisa untuk membeli gaun butut di Ann Arbor. Tapi di sini, aku harus merelakan semuanya untuk membayar taksi yang hanya akan mengantarku melewati beberapa blok.
Rasionalnya adalah setelah segala kesulitan yang menimpa kami sepanjang tahun, dan sadar Ann Arbor telah menelan kami bulat-bulat, seharusnya kami terbang melewati separuh Amerika kemudian hinggap di Texas. Kota yang biaya hidupnya separuh lebih murah daripada di LES. Menikmati sengatan matahari seperti yang diteriakkan Dad untuk membalas ego Mum. Bukan malah mengadu nasib di sini. Di kota di mana kami tidak tahu tempat untuk membeli telur murah.
New York pasti meludahi kami. Tidak sekarang, tapi segera.
Aku berguling dari posisi miringku, terlentang menatap tiruan lukisan Monet yang tergantung di dinding di depan ranjangku. Lukisan palsu tapi asli. Asli dengan goresan-goresan cat minyak. Bukan hasil potret kamera berfokus tinggi.


Young Girl In The Garden At Giverny. Lukisan seorang gadis muda memeluk bunga di tengah kebun. Aku tahu itu tiruan Monet karena aku mengenali lukisan aslinya. Aku pernah membuat klipingnya saat aku masih di SMP sebagai tugas kesenian.
Lukisan asli Monet menggunakan banyak warna yang kalem. Sedangkan si peniru ini menggunakan warna-warna yang menyolok mata. Lukisan gadis muram itu berubah menjadi lebih ceria. Gaun putih si gadis dirubah si peniru menjadi warna ungu. Dia juga merubah warna rambut si gadis yang semula cokelat menjadi biru langit cerah. Berbeda dengan aslinya tapi tetap saja tampak bernyawa.
Lukisan ini adalah milik penghuni flat sebelumnya. Pasangan Mr dan Mrs Joice. Bagaimana kami mendapat flat ini adalah suatu kejutan pertama saat kami tiba di LES. Kejutan besar setelah berjam-jam tersesat di daerah kumuh sebelum kembali ke jalur yang benar. Benar yang berarti kawasan yang tidak bau pesing dan sampah busuk.
Mum mendapatkan flat ini dari mereka dengan harga murah. Sepasang suami istri lanjut usia itu ingin secepatnya pindah ke Chicago. Sebenarnya Mr Joice ingin menjualnya sebelum pindah. Sayang, istrinya sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan anaknya. Jadi mereka menyewakan flat ini kepada kami sementara sebelum terjual. Pengumuman bangunan dijual tetap ditempel di dinding kaca lantai bawah. Di bekas toko kain mereka yang sudah gulung tikar.
Mungkin tidak ada yang bisa kami lakukan dengan ruang kosong di bawah flat. Tapi sungguh bukan masalah selama flat di atasnya, yang kutinggali sekarang memiliki dua kamar tidur, dua kamar mandi, ruang keluarga serta dapur kecil yang memadai. Suara berisik kendaraan yang berlalu lalang di bawah kami tidak akan pernah jadi masalah. Kecuali,
“…I’ve been thinking about you, I’ve been dreaming about you, every night and everyday…” suara pria bernyanyi keras bercampur tawa kemudian terbatuk dan muntah. Suara cairan yang muncrat dari dalam lambung mengenai trotoar terdengar menjijikkan.
Aku membalik bantal menutupi telingaku. Aku harus membiasakan diri dengan suara orang mabuk yang berteriak keras-keras jika ingin hidup di LES. Terlalu banyak bar di kota ini. Membuat orang-orang mabuk tampak zombie-zombie yang menyerbu kota di film-film.
Dan satu hal lagi. Jika suatu hari aku harus mabuk, aku akan mengingatkan diriku sendiri untuk tidak menyanyi salah satu lagu lemah milik Puddle Of Mudd. Ini terdengar menjijikkan untuk seseorang yang patah hati.
Hampir pukul dua malam, baik, aku harus segera tidur dan bangun pagi. Membuat sarapan sendiri sebelum berangkat ke sekolah.
Baiklah, apa yang harus kutakutkan sekarang? aku punya tempat berteduh dari hujan dan panas. Aku punya kamar mandi pribadi walaupun kran air panasnya kadang tidak berfungsi. Kecuali jika aku tidak lupa menyalakan ketelnya selama empat jam sebelum dipakai. Lagipula apa buruknya itu? air dingin bagus untuk peredaran darah bukan?
 Astaga hampir jam tiga malam! Aku harus tidur. bab 2

0 komentar:

Posting Komentar