GADIS
PEMELUK BUNGA
Sudah enam belas kali
dalam dua jam terakhir mataku membuka dan menutup. Bukan karena suara kendaraan
yang berlalu lalang tepat di bawah kamarku. Ataupun suara-suara klakson tidak
sabar ketika lampu merah menjadi hijau dengan cepat. Tapi berada di sini
membuatku cemas.
Baru dua minggu
menghirup udara asing sejak kepindahanku dan Mum dari Ann Arbor ke Lower East
Side atau LES. Kota pinggiran dengan banyak daerah kumuh dan biaya hidup lebih
murah dibanding seluruh daerah bagian Manhattan.
Perceraian Mum dan Dad.
Sebagai hasil akhir pertengkaran mereka setiap hari. Masalah ketidakberdayaan
kami tentang ekonomi menjadi pemicu terbesar pertama. Alasan yang kedua adalah
Dad benar-benar pria yang harus kami hindari jika tidak mau hidup menderita.
Dad memang sangat
menguras emosi dan fisik kami selama bertahun-tahun. Tapi di antara kegiatannya
memukuli Mum dan menyedot alkohol, dia masih sempat memberiku uang saku lebih
untuk membeli satu gaun di toko vintage
untuk pesta dansa terakhirku di sekolah lamaku.
“Julie, aku tahu ini
tidak banyak, tapi aku tahu tempat baju murah di ujung jalan. Maksudku kata
temanku. Kau ingat Tayle kan? Nah, ambil
ini dan belilah baju yang bagus untuk pestamu,” ujarnya pagi itu ketika aku
masih berada di atas ranjang. Dia menyelipkan tiga puluh dolar ke tanganku
kemudian pergi. Sedetik kemudian dia kembali menoleh dan berkata, “Julie, boleh
pinjam lima dolar?”
Itu hanya satu kebaikan
Dad yang masih bisa kuingat. Hanya itu. Selebihnya aku dan Mum sudah tidak
tahan. Setelah aku mendapat enam jahitan tepat di punggungku, itu pertama
kalinya aku melihat Mum memutuskan sesuatu yang benar. Mum menceraikannya.
Satu masalah
terselesaikan dan satu masalah lain menanti. Aku benar-benar menyesali
keputusan Mum. Tiga puluh dolar kurang lima dolar mungkin bisa untuk membeli
gaun butut di Ann Arbor. Tapi di sini, aku harus merelakan semuanya untuk
membayar taksi yang hanya akan mengantarku melewati beberapa blok.
Rasionalnya adalah setelah
segala kesulitan yang menimpa kami sepanjang tahun, dan sadar Ann Arbor telah
menelan kami bulat-bulat, seharusnya kami terbang melewati separuh Amerika
kemudian hinggap di Texas. Kota yang biaya hidupnya separuh lebih murah
daripada di LES. Menikmati sengatan matahari seperti yang diteriakkan Dad untuk
membalas ego Mum. Bukan malah mengadu nasib di sini. Di kota di mana kami tidak
tahu tempat untuk membeli telur murah.
New York pasti meludahi
kami. Tidak sekarang, tapi segera.
Aku berguling dari
posisi miringku, terlentang menatap tiruan lukisan Monet yang tergantung di
dinding di depan ranjangku. Lukisan palsu tapi asli. Asli dengan
goresan-goresan cat minyak. Bukan hasil potret kamera berfokus tinggi.
Young
Girl In The Garden At Giverny. Lukisan seorang gadis
muda memeluk bunga di tengah kebun. Aku tahu itu tiruan Monet karena aku
mengenali lukisan aslinya. Aku pernah membuat klipingnya saat aku masih di SMP
sebagai tugas kesenian.
Lukisan asli Monet
menggunakan banyak warna yang kalem. Sedangkan si peniru ini menggunakan warna-warna
yang menyolok mata. Lukisan gadis muram itu berubah menjadi lebih ceria. Gaun
putih si gadis dirubah si peniru menjadi warna ungu. Dia juga merubah warna
rambut si gadis yang semula cokelat menjadi biru langit cerah. Berbeda dengan
aslinya tapi tetap saja tampak bernyawa.
Lukisan ini adalah
milik penghuni flat sebelumnya. Pasangan Mr dan Mrs Joice. Bagaimana kami
mendapat flat ini adalah suatu kejutan pertama saat kami tiba di LES. Kejutan besar
setelah berjam-jam tersesat di daerah kumuh sebelum kembali ke jalur yang benar.
Benar yang berarti kawasan yang tidak bau pesing dan sampah busuk.
Mum mendapatkan flat
ini dari mereka dengan harga murah. Sepasang suami istri lanjut usia itu ingin
secepatnya pindah ke Chicago. Sebenarnya Mr Joice ingin menjualnya sebelum pindah.
Sayang, istrinya sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan anaknya. Jadi
mereka menyewakan flat ini kepada kami sementara sebelum terjual. Pengumuman bangunan
dijual tetap ditempel di dinding kaca lantai bawah. Di bekas toko kain mereka
yang sudah gulung tikar.
Mungkin tidak ada yang
bisa kami lakukan dengan ruang kosong di bawah flat. Tapi sungguh bukan masalah
selama flat di atasnya, yang kutinggali sekarang memiliki dua kamar tidur, dua
kamar mandi, ruang keluarga serta dapur kecil yang memadai. Suara berisik
kendaraan yang berlalu lalang di bawah kami tidak akan pernah jadi masalah.
Kecuali,
“…I’ve been thinking about you, I’ve been dreaming about you, every night
and everyday…” suara pria bernyanyi keras bercampur tawa kemudian terbatuk
dan muntah. Suara cairan yang muncrat dari dalam lambung mengenai trotoar
terdengar menjijikkan.
Aku membalik bantal
menutupi telingaku. Aku harus membiasakan diri dengan suara orang mabuk yang
berteriak keras-keras jika ingin hidup di LES. Terlalu banyak bar di kota ini.
Membuat orang-orang mabuk tampak zombie-zombie yang menyerbu kota di film-film.
Dan satu hal lagi. Jika
suatu hari aku harus mabuk, aku akan mengingatkan diriku sendiri untuk tidak
menyanyi salah satu lagu lemah milik Puddle Of Mudd. Ini terdengar menjijikkan
untuk seseorang yang patah hati.
Hampir pukul dua malam,
baik, aku harus segera tidur dan bangun pagi. Membuat sarapan sendiri sebelum
berangkat ke sekolah.
Baiklah, apa yang harus
kutakutkan sekarang? aku punya tempat berteduh dari hujan dan panas. Aku punya
kamar mandi pribadi walaupun kran air panasnya kadang tidak berfungsi. Kecuali jika
aku tidak lupa menyalakan ketelnya selama empat jam sebelum dipakai. Lagipula
apa buruknya itu? air dingin bagus untuk peredaran darah bukan?

0 komentar:
Posting Komentar